Sabtu, 09 Juni 2012

Wahai Saudariku, Cobalah Sekali-sekali Nongkrong di PPA!


Beberapa bulan terakhir ini, saya harus mondar-mandir ke kantor polisi..


Saudara saya, menderita kasus KDRT selama sepuluh tahun pernikahannya. Sang suami kerap memukuli saudara saya, menganiaya ketiga anak lelakinya, tidak mempunyai pekerjaan tetap, berjudi, dan selalu mengganggu semua makhluk yang rambutnya melebihi pundak. Anda sebutkan semua kejelekan yang bisa dilakukan seorang suami, maka hal itu pernah dilakukan sang suami.



Semua usaha sudah dilakukan: komunikasi antar suami istri, mediasi lewat orang tua, mediasi lewat ketua RT, lewat pemuka agama, dan beberapa bulan ini mediasi lewat polisi. Mungkin hanya PBB saja yang belum pernah memediasi masalah ini. Hasilnya: nol besar.



Siklus yang sama selalu terjadi: mediasi, sang suami membaik sebentar, lalu beberapa bulan kemudian, saudara saya akan muncul pagi-pagi di rumah dengan membonceng tiga anak kecil di sepeda motornya, biasanya salah satu dari mereka menderita luka-luka yang cukup parah akibat pukulan sang suami.


Setiap kali saya ke unit PPA, menemani saudara saya mengadu ke polisi (ternyata berurusan dengan polisi memang melelahkan), saya menyaksikan berbagai laporan yang masuk dalam satu hari, dan itu cukup mengubah cara pandang saya terhadap hidup..



- Ada kasus pemerkosaan anak di bawah umur,
- seorang istri buta huruf yang dianiaya suaminya (yang PNS di kantor gubernur) karena protes suaminya menikah lagi,
- seorang remaja belasan tahun dilarikan berhari-hari dari rumah oleh seorang lelaki yang sudah beristri,
- bahkan saya pernah menyaksikan seorang murid SD, ditemani oleh orang tuanya, mengadukan gurunya karena menghukumnya di sekolah (dan luar biasanya, orang tua si anak tidak mau berdamai..).
Sungguh membuat saya jadi sadar, di balik kenyamanan yang selama ini saya alami di dalam rumah saya yang damai, di luar sana, setiap hari, ada ratusan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di luar sana.



Banyak dari para wanita ini, tidak tahu tentang sisi gelap sang suami sebelum menikah. Banyak juga yang sudah tahu bahwa sang calon suami punya sisi gelap, tapi karena sesuatu dan lain hal (biasanya menggunakan kata-kata yang membuat saya mengerutkan kening sambil tersenyum miris: “saya sudah cinta mati…”), tetap berkeras menikah dengan sang suami, sambil berharap sang suami akan berubah setelah menikah.



Jika setelah menikah tidak juga berubah, maka sang wanita berharap sang suami berubah setelah punya anak.
Jika tidak juga berubah, dan semuanya mulai tak tertahankan, maka keluarga lah yang harus turun tangan.
Dan jika tidak berubah juga (dan itulah yang sering terjadi), maka muncul lah mereka ke PPA, dengan bekas-bekas kursi atau benda tumpul lainnya di sekujur tubuh mereka, sambil berharap aparat hukum melakukan mukjizat sehingga mampu mengubah suami mereka…



Harapan itu, sering kali terlalu tinggi.. Sering kali sang suami digiring ke kantor polisi dalam keadaan gemetar, menangis minta ampun kepada polisi dan sang istri, sambil bersumpah menghiba-hiba bahwa ia tidak akan pernah melakukannya lagi. Jika hal itu tidak mampu menggugah sang istri untuk mencabut gugatan, maka keluarga sang suami akan datang, menggunakan pengaruh, atau jurus menghiba-hiba yang sama, yang bertujuan menekan sang istri untuk menarik gugatan.



Dan coba tebak, sekali saja gugatan itu dicabut, maka akan susah sekali membangkitkan kembali kasus yang sama. Dan sering kali, begitu gugatan itu dicabut, kekerasan itu akan tetap berulang, tentu saja dengan modus yang lebih mengerikan: “kuculik dan kusiksa anak-anak jika berani mengadu lagi ke polisi”, bahkan ada beberapa kasus di mana sang suami langsung menghabisi sang istri, jika sang istri tidak bisa dihalangi lagi untuk mengadu ke polisi.. Tinggal serumah, berhadapan setiap hari, bahkan tidur di ranjang yang sama dengan ancaman terus menerus seperti itu, yakinlah, bukan kehidupan yang ingin kalian jalani…


Saya cuma bisa menyalurkan kegundahan hati saya, dengan tulisan ini. Saudari-saudariku, berfikirlah panjang.. Secinta mati apapun anda terhadap pasangan anda saat ini, berfikir panjanglah.. Jika pasangan anda pernah meletakkan tinjunya yang keras ke atas kulit lembut kalian bahkan di saat kalian masih pacaran, jangan lah terlalu berharap hal itu akan berubah menjadi sentuhan cinta kasih di saat kalian telah menikah..



Jika pasangan kalian menunjukkan taringnya setelah kalian menikah, segera lah cari bantuan di saat pertama kali hal itu terjadi.. Itu memang aib, dan pernikahan muda kalian akan terancam. Tetapi, itu bukan apa-apa, dibandingkan menghabiskan hidup bertahun-tahun mengalami kekerasan yang makin parah, yang bahkan akan merusak masa depan anak-anak kalian, dan menciptakan siklus kekerasan di masa depan…



Juga ingatlah, jangan terlalu mudah menyerahkan kesucian kalian terhadap pasangan kalian sebelum menikah.. Di PPA, kalian bisa menyaksikan setiap hari, pengaduan tentang mungkir janjinya sang kekasih untuk menikahi, betapapun mesranya rayuan pasangan sang wanita sebelum merenggut kesucian dan menghamilinya.. Kasus seperti itu dengan mudah kalian baca tiap hari di koran-koran kriminal, dan herannya, kalian sering tidak belajar apa-apa dari situ.. Harus kah kalian menyaksikan langsung?



Para wanita (muda), cobalah sekali-kali nongkrong di PPA, bukan hanya di mall atau cafe.. Maka, cara pandang kalian terhadap hidup, tidak akan pernah sama lagi…



*PPA = Perlindungan Perempuan dan Anak, unit khusus di kantor polisi untuk menangani pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak



Penulis

fb: Dian Jatikusuma


sumber:situslakalakareturn.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar