Senin, 04 Juni 2012

Prajurit Perempuan Anggota Militer Amerika Serikat (AS) Itu Diperkosa di Tempat Mereka Bertugas


Malang nian nasib prajurit perempuan yang bergabung dalam Angkatan Bersenjata AS. Mereka ingin mengabdi pada negara sebagai seorang prajurit. Namun, pada kenyataannya banyak diantaranya justru kehilangan kehormatan di tempat pengabdian mereka.
Sebuah buku berjudul The Lonely Soldier: The Private War of Women Serving in Iraq, diluncurkan di Amerika Serikat pada hari Rabu (15/4). Buku yang berdasarkan pada 40 wawancara mendalam itu menceritakan kisah-kisah prajurit perempuan yang telah bertugas di medan perang dan cerita tentang perkosaan, penyerangan seksual dan pelecehan oleh laki-laki yang merupakan rekan mereka sendiri.
Beberapa diantaranya diperingatkan oleh petugas untuk tidak pergi ke kamar kecil sendiri. Ada yang mulai membawa pisau kalau-kalau ia diserang oleh rekannya. Sementara yang lain takut untuk melaporkan penyerangan itu.
“Hal yang menakutkan adalah bahwa yang melakukan penyerangan seksual itu adalah teman mereka sendiri,” kata penulis buku, Helen Benedict, seorang profesor jurnalisme di Universitas Columbia di New York.
Satu dari sepuluh tentara AS di Iraq dan Afganistan adalah perempuan. Jumlah prajurit perempuan yang tewas di Iraq lebih banyak dari tempat manapun sejak Perang Dunia II. Demikian menurut data statistik Departemen Pertahanan AS yang dikutip buku itu.
Benedict mengatakan bahwa judul buku berasal dari pengalaman prajurit perempuan AS yang trauma karena tugas dan pelecehan seksual oleh sesama prajurit.
“Perempuan berada dalam bahaya saat ini dan terlebih lagi mereka ikut dalam peperangan. Maka hal itu menjadi sangat tragis, karena semua prajurit seharusnya dapat bergantung satu sama lain untuk saling melindungi,” kata Benedict.
“Bagaimana perasaan Anda jika sesama prajurit melecehkan Anda sepanjang hari atau mencoba untuk memperkosa Anda, atau bahkan telah memperkosa Anda?”
Salah satu prajurit, Marti Ribeiro, seorang sersan angkatan udara, bergabung dalam pasukan angkatan ketiga yang dikirim ke Afghanistan pada tahun 2006. Ia bertugas sebagai koresponden pertempuran dalam Divisi Gunung ke-10 yang anggotanya semua laki-laki . Kisahnya dimuat dalam buku itu, termasuk cerita tentang dirinya yang diserang dan diperkosa oleh tentara AS yang berseragam ketika menjaga sebuah pos.
Saat itu, setelah menyelesaikan tugasnya ia tidak langsung mandi untuk memperkuat bukti bahwa ia telah diserang, dia melapor kepada pihak berwenang. Ia diberitahu jika dia mengisi formulir pengaduan, maka dia akan dituntut karena melalaikan tugas yaitu meninggalkan senjatanya tanpa penjagaan . Dia akhirnya meninggalkan militer.
“Saya pernah bercita-cita menjadi seorang tentara satu hari, seperti ayah dan kakek,” ujarnya dalam buku tersebut. “Sayangnya, karena saya perempuan, cita-cita itu tidak akan menjadi kenyataan.”
Menurut laporan yang dirilis oleh Pentagon pada bulan Maret, jumlah kasus penyerangan seksual di lingkungan militer AS meningkat 8 persen di tahun fiskal 2008 dari tahun sebelumnya dan kasus di Iraq dan Afganistan meningkat sebesar 25 persen.
Total keseluruhan pengaduan serangan seksual oleh anggota militer adalah 2.908 kasus. Kasus itu meliputi perkosaan, pelecehan seksual dan percobaan perkosaan, demikian diantara bunyi laporan itu.
Dari 40 perempuan yang bertugas antara tahun 2003 dan 2006 yang diwawancarai Benedict, 10 orang menyatakan bahwa mereka telah diperkosa, lima mengatakan mereka diserang secara seksual dan hampir diperkosa, dan 13 orang dilecehkan secara seksual.
Sebuah drama berdasarkan cerita yang ditulis Benedict dipentaskan di New York dan mungkin akan melakukan tur pertunjukan keliling Amerika Serikat. Dalam satu kesempatan baru-baru ini, setelah pertunjukan berakhir, seorang prajurit militer memeluk aktor yang ikut bermain dalam drama itu. Beberapa orang menangis.
Cynthia Smith seorang juru bicara Departemen Pertahanan, berkata bahwa departemennya “berkomitmen” untuk menghilangkan kasus serangan seksual dalam tubuh militer melalui pencegahan dan membuat kebijakan untuk menanggulanginya serta berusaha menghilangkan hambatan dalam pelaporan kasus seperti itu.
Benedict serta beberapa peneliti mengatakan, jumlah kasus yang dikemukakan pemerintah AS lebih rendah daripada temuan mereka karena pemerintah hanya menghitung kasus yang dilaporkan oleh orang-orang cukup berani untuk melaporkannya.
Sebuah survei di tahun 2003 menyatakan, lebih dari 550 perempuan veteran — yang bertugas pada masa antara Perang Vietnam hingga Perang Teluk I — 30 persen diantara mereka mengatakan pernah diperkosa atau pernah akan diperkosa. Dan 79 persen dikatakan pernah mengalamai pelecehan seksual, demikian menurut American Journal of Industrial Medicine. [rtr/di/hidayatullah]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar