Minggu, 29 Juli 2012

Belajar Islam Kok Ke Barat? part 2


Produk Barat Made in Lokal

Belajar Islam di Barat kini mempunyai gaya baru. Tidak dengan berangkat ke sana, tapi tetap belajar di Indonesia. Hanya saja sistem belajarnya meniru model belajar Islam di Barat.

Di Yogyakarta misalnya, tahun ini dibuka studi agama yang bernama ”Inter-religious International Ph.D. Program”. Program ini bertempat di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, dan terselenggara atas kerjasama UGM, UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Ketiga kampus itu bekerjasama membentuk satu konsorsium yang diberi nama ”Indonesian Consortium for Religious Studies” (ICRS- Yogya). Direktur konsorsiumnya adalah Pror Dr Bernard Adeney-Risakotta, seorang Kristen asal Amerika Serikat. Inilah satu-satunya program doktor studi agama yang diprakarsai oleh universitas muslim, kristen, dan nasional-sekuler.

Penekanan utama dari program ini adalah studi tentang agama-agama di Indonesia, khususnya Islam. Program diselenggarakan dengan bahasa Inggris. Dan selama satu semester para mahasiswa diharuskan kuliah di universitas terkemuka di luar negeri.

Yang menarik dari program ini adalah dosen-dosen yang direncanakan akan mengajar. Dari UIN Yogya ada nama Prof. Dr. M. Amin Abdullah yang sudah tersohor sebagai pendukung pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd. Ada juga Dr. Nurcholish Setiawan, murid Abu Zayd yang menerbitkan disertasinya dengan judul ”Al-Quran Kitab Sastra Terbesar”. Kemudian ada pula Prof. Dr. Machasin yang menerbitkan disertasinya dengan judul ”Al-Qaddi Abd al-Jabbar, Mutasyabih al-Quran: Dalih Rasionalitas Al-Qur’an.”

Lainnya adalah Dr. Fatimah Husein yang menulis disertasi doktor di Melbourne University tentang hubungan Islam-Kristen di Indonesia dalam perspektif Muslim Inklusif dan Muslim Eksklusif. Ada juga Dr. Sahiron Syamsuddin, yang dikenal banyak menulis mengenai pemikir liberal asal Suria, Muhammad Syahrur. Lalu, ada Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain yang disertasinya diterbitkan dengan judul ”Gerakan Ahmadiyah di Indonesia”.

Di samping dosen lokal ada juga rencana mendatangkan dosen dari luar. Diantara dosen tamu yang direncanakan memberi kuliah adalah Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zaid (Utrecht, ISIM), Prof. Dr. Abdullahi A. An Na'im, dan Dr. Khaled M Abou El Fadl (UCLA). Ketiganya adalah tokoh-tokoh muslim sekuler-liberal. Nasr Hamid adalah pemikir asal Mesir yang dikenal dengan pendapatnya bahwa Al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), Abdullahi A. An Na'im bulan lalu berkunjung ke Indonesia dalam rangka mempromosikan buku terbarunyanya yang berjudul Islam dan Negara Sekuler: Menegosiasikan Masa Depan Syari’ah. 

Pada proses seleksi di tahun pertama ini, ICRS-Yogya sudah meloloskan 17 mahasiswa, yang kemudian menyusut menjadi 15 mahasiswa karena 2 orang mengundurkan diri. Dari 15 mahasiswa tersebut, 3 orang berasal dari Pilipina, Polandia, dan Serbia, selebihnya dari dalam negeri dan mayoritas adalah muslim. Pilihan bidang favorit dalam program doktor ICRS ini adalah Religious Study.

Menurut Elis Zuliati Anis, ICRS-Yogya Administrative Assistant, ICRS berhasil menggandeng mitra dari Ford Foundation, yang akan menyediakan seluruh fasilitas untuk ICRS-Yogya, termasuk di antaranya menanggung gaji dosen yang mengajar, dan memberikan living cost bagi mahasiswa sebesar Rp 500.000,-/bulan.

ICRS saat ini terpilih oleh DIKTI sebagai Center of Exellence dalam bidang Religious Study di UGM, dan dipercaya untuk menyeleksi 9 beasiswa penuh S-3 ke luar negeri sebagai ikatan dinas, yang berkewajiban mengajar di CRCS/ ICRS setelah selesai studi.

Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga sudah dibuka program Master dengan jurusan Islamic Studies. Program ini memakai pola Islamic Studies di McGill University.

3. Potret Alumni Pendidikan ala Barat

 
Sejumlah mahasiswa di kampus Islam mengeluh, dosennya lulusan Barat malah nyeleneh.

Menurut salah satu sumber Suara Hidayatullah, jumlah dosen di kampus Pascasarjana UIN Jakarta yang menyandang gelar doktor atau master dari Barat mencapai 20%. Setara dengan jumlah dosen lulusan Timur Tengah dan Mesir.

Hal yang sama juga di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Amin Abdullah, seorang aktifis Muhammadiyah yang terkenal berpikiran liberal ini, jajaran pimpinan mayoritas diisi oleh alumni Barat. Misalnya Fatimah Husein, lulusan McGill University dan Monash University. Ada juga, Hamim Ilyas dengan pemikiran kontroversialnya yang membolehkan perempuan menjadi imam shalat.

Hal ini diakui sendiri oleh Drs. H. Ali bin Abdul Manan, MM, Kepala Bagian Kepegawaian UIN Sunan Kalijaga. Menurutnya, jajaran pimpinan di univeritas saat ini adalah keluaran McGill University, termasuk Amin Abdullah. Hal ini dapat dimaklumi, pasalnya sudah sejak tahun 90-an hingga saat ini, UIN Sunan Kalijaga terus mengirimkan dosennya untuk belajar Islam di McGill University Kanada. Pengiriman ini adalah hasil kerjasama UIN Sunan Kalijaga dengan CIDA dan McGill University sendiri.

Pak Ali – demikian Kabag Kepegawaian UIN Sunan Kalijaga itu biasa disapa - tidak dapat memastikan komposisi dosen UIN lulusan Barat, karena diakuinya manajemen di lingkup kepegawaian masih belum begitu rapi, sehingga kadang ada dosen yang ke luar negeri tanpa melapor ke bagian yang dipimpinnya.

Namun Ali menegaskan, kerjasama dengan CIDA dan McGill University hingga saat ini masih terus berjalan. Banyak program-program yang ditunjang oleh kerjasama ini, baik studi lanjut, program pengembangan manajemen, maupun pertukaran guru besar.

Arif Maftuhin, dosen UIN Sunan Kalijaga lulusan Seattle University USA yang mendapatkan beasiswa Fullbright, menambahkan, sekitar ratusan dosen UIN Sunan Kalijaga telah belajar Religious Study di McGill University. Mereka biasanya sudah mengadakan ikatan dinas, dimana begitu pulang ke Indonesia diharuskan mengajar di UIN Sunan Kalijaga. Artinya, dengan data dosen per Juni 2007 sebanyak 291 orang, maka hampir dapat dipastikan bahwa sebagian besar pengajar di UIN Sunan Kalijaga adalah lulusan McGill University.

Oleh karena itu, Ratna, staf bagian kepegawaian saat dikonfirmasi menjelaskan, jika diperbandingkan, maka jumlah dosen lulusan universitas Timur Tengah yang mengajar di UIN Sunan Kalijaga sangat sedikit jika dibandingkan dengan lulusan Barat. Dan biasanya para dosen itu kuliah ke Timur Tengah atas usaha sendiri, bukan karena difasilitasi kampus.
 
***

Tentu akan muncul pertanyaan, ada apa dengan mereka yang mendapat gelar dari Barat? Berikut ini potret anak negeri yang pernah dan sedang “nyantri” di Barat.

1. Harun Nasution. Lulusan Islamic Studies McGill University ini dikenal sebagai pelatak dasar sekularisme dan liberalisme di IAIN dan STAIN. Buku Harun yang berjudul “Islam Ditijau dari Berbagai Aspeknya” dijadikan buku wajib untuk mata kuliah Pengantar Agama Islam, mata kuliah yang wajib diambil oleh seluruh mahasiswa IAIN, STAIN dan UIN.

Padahal, menurut Prof Rasjidi, mantan Menteri Agama RI yang pertama, dalam bukunya berjudul “Koreksi Terhadap DR. Harun Nasution tentang Islam Ditijau dari Berbagai Aspeknya” ini menyatakan, dalam buku Harun itu banyak terdapat ide-ide sangat berbahaya mengenai Islam. Salah satunya adalah penjelasan Harun bahwa Islam memiliki posisi yang sama dengan agama-agama lain, yaitu sama-sama agama yang berevolusi (evolving religion). Padahal Islam adalah satu-satunya agama wahyu, yang berbeda dengan agama-agama lain, yang merupakan agama sejarah dan agama budaya (historical and cultural religion).

Disamping itu, ketika menjabat rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Harun mendirikan Islamic Studies dengan model MIIS di IAIN.

2. Nurcholis Madjid. Mendiang merupakan salah seorang pencetus ide sekularisme di Indonesia. Melalui ceramahnya yang berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” pada 03 Januari 1970 itulah Nurcholis mulai melemparkan ide sekularisme. Ungkapan yang paling terkenal dari pidatonya waktu itu adalah “Islam Yes Partai Islam No”.

Kemudian Nurcholis kembali menggegerkan umat Islam pada tahun 1992, ketika ia menyampaikan pidatonya di TIM dengan judul “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia”. Dalam pidatonya ia mengkritik fundamentalisme agama yang dianggapnya lebih berbahaya dari narkoba.

3. Ulil Abshar Abdalla. Mantan koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) ini kini sedang “nyantri” di Boston University untuk mendapatkan gelas S2 dan S3 sekaligus. Pemikiran liberalnya sudah banyak yang dipublikasikan. Di antaranya yang dimuat Majalah Gatra (21/09/02). Dalam artikelnya itu Ulil menulis, “Semua agama sama. Jadi, Islam bukan yang paling benar”. Di lain tulisannya ia menulis, “Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan,semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya (Kompas, 18 November 2002). 

4. Nur Kholish Setiawan. Ia merupakan salah satu murid kesayangan Nasr Hamid Abu Zayd. Ia pernah menerbitkan buku dengan judul “Al-Qur`an Kitab Sastra Terbesar”. Pikiran-pikirannya tak jauh beda dengan sang guru, menganggap al-quran sebagai produk budaya. Kini ia mengajar di UIN Suan Kalijaga Yogyakarta.*


Menyebar Pemikiran Liberal di Kampus

 
Sholihin, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta mengaku pusing dengan ulah dosen-dosen lulusan Barat. Menurutnya, para dosen itu bukannya membawa pemikiran orisinil tentang Islam sebagaimana literatur aslinya, tapi justru banyak yang mengusung ide-ide liberalisme dan pluralisme ketika mengajar mahasiswanya.

“Mereka selalu membawa isu-isu kesetaraan gender dan pluralisme ketika mengajar,” ujar Sholihin. Menurut mereka, ungkap Sholihin, dosen-dosen itu selalu menekankan persamaan antara laki-laki dan perempuan di berbagai sektor.

“Bahkan tidak jarang para dosen tersebut mengkritisi beberapa tafsir Al-Quran yang dinilai tidak sensitif gender sehingga harus diubah.”

Senada dengan Sholihin, Jabir, mahasiswa S2 program Islamic Studies UIN Jakarta mengatakan bahwa dosen-dosen lulusan Barat mayoritas menggiring mahasiswanya untuk berpikiran liberal.*

Suara Hidayatullah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar