Senin, 14 Mei 2012

Drone: Pesawat Pembunuh Amerika



2010 adalah tahun terakhir abad baru dan milenium serta merupakan sepuluh tahun secara berturut-turut Amerika Serikat perang di Afghanistan dan di 15 wilayah negara yang tanggung jawabnya dimasukkan ke dalam Operation Enduring Freedom. Pada awal Maret kematian pasukan Amerika lebih besar di medan Perang Afhgan - Afghanistan, Kuba (Guantanamo Bay), Djibouti, Eritrea, Yordania, Kenya, Kyrgyzstan, Filipina, Seychelles, Sudan, Tajikistan, Turki, Uzbekistan dan Yaman – melampaui angka 1.000.
Tahun ini juga merupakan tahun kesepuluh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (reorganisasi setelah berakhirnya detente, pent.) dan untuk yang pertamakali mengirimkan pasukan mereka ke medan perang di Asia, namun perang yang bukan untuk melindungi bangsa di negara-negara di kawasan Laut Atlantik utara.
2010 adalah tahun kesepuluh dan paling mematikan di Washington dengan menggunakan pesawat tak berawak (drone) untuk membunuh target dan yang tidak menjadi target, "collateral damage."
Awalnya dirancang untuk pengawasan dan pengintaian di medan tempur, walaupun sering untuk memenuhi tugas dalam serangan militer yang mematikan, drone telah digunakan oleh Amerika Serikat sejak tahun 2001 untuk mengidentifikasi target manusia dan membunuhnya.

Laser Avenger

Drone:
Sebuah pesawat tanpa awak yang mampu melakukan misi non-destruktif; bila digunakan untuk destruktif namanya rudal. Lihat juga Peluru KendaliRudal
Ada tiga jenis utama drone: yang terprogram, cerdas, dan dikemudikan dari jarak jauh tanpa awak.
Sebuah drone diprogram menanggapi on-board timer atau scheduler dan tidak memiliki sensor kontak dengan tanah. Drone mengikuti serangkaian manuver rutin, perubahan ketinggian, perubahan kecepatan, dan tentu saja perubahan yang diprogram melalui autopilot untuk mengontrol permukaan drone dan mesin throttle. Pada akhir misi biasanya Drone ditemukan dengan parasut.
Si pintar Drone membawa berbagai sensor dan dilengkapi dengan on-board komputer. Kemampuan drone yang cerdashanya untuk memutuskan, mengatur perubahan dan ketinggian saja, karena kemampuannya dibatasi oleh komputer dan sensor. Sebagai contoh, drone yang pintar mungkin bisa lepas landas dengan sendirinya dari bandara tertentu, menavigasikan rute memutar, membuat keputusan perjalanan berdasarkan cuaca atau tindakan radar musuh, terbang ke bandara kedua, dan membuat pendaratan yang aman. Lihat juga Sistem Penyuluhan; Navigasi
Kendaraan yang dikemudikan dari jarak jauh (RPV), mungkin yang paling umum adalah jenis drone, berada di bawah pengawasan secara konstan operator atau pilot melalui jalur radio. Pilot atau para pilot dapat diletakkan di tanah, di pesawat lain, atau di kapal. Misi khas kendaraan yang dikendalikan dari jaraj jauh ini adalah pengintaian atau pengawasan terhadap kegiatan musuh, sasaran akuisisi, merelay komunikasi teman, dan memacetkan komunikasi musuh.
Kendaraan dengan teknologi maju ini yang dikemudikan dari jarak jauh dilengkapi dengan televisi low-light-level dan sensor infra merah yang memungkinkan penggambaran pengintaian over-the-horizon untuk diteruskan ke komandan lapangan. Lihat juga Inframerah Perangkat Pencitraan.
Dari: http://www.answers.com/topic/drone

Jenis pertama "pemburu-pembunuh" pesawat tempur tak berawak, adalah Predator, digunakan oleh Pentagon di Bosnia pada tahun 1995 dan kemudian dalam perang udara selama 78-hari melawan Yugoslavia pada tahun 1999.
Pada tahun 2001 Predator dilengkapi dengan rudal Hellfire dan dikerahkan dari Pakistan dan Uzbekistan untuk melancarkan serangan ke dalam Afganistan. Tahun berikutnya mereka diterbangkan dari pangkalan militer Amerika Serikat dari Camp Lemonnier di Djibouti untuk tujuan yang sama di Yaman.
Predator dan pendahulunya, Reaper, mampu membawa lima belas kali lebih persenjataan dan mampu terbang pada tiga kali kecepatan, telah digunakan untuk serangan mematikan di Afghanistan, Irak, Yaman, Somalia dan dengan tugas melakukan pembunuhan terutama di Pakistan sejak musim gugur tahun 2008. Kedua jenis pesawat tersebut dilengkapi dengan kamera yang dihubungkan oleh satelit penghubung ke pangkalan di Amerika Serikat.
Pada bulan Oktober Laksamana Madya Robert Moeller, wakil komandan Komando Afrika Amerika, mengumumkan bahwa Reapers, "mampu membawa selusin bom dan rudal pemandu," [1] disebarkan di Seychelles, di lepas pantai timur benua Afrika untuk melakukan patroli di Samudra Hindia .
Radio Australia menyiarkan sebuah berita pada tanggal 8 Maret yang menyatakan bahwa "Presiden Amerika Serikat, Barack Obama telah mengambil keputusan mengenai kebijakan di Afghanistan, yang lebih antusias menyerang dengan menggunakan rudal drone daripada pendahulunya."[2] Baik di Afghanistan dan Pakistan maupun di Yaman.
Membahas laporan oleh the New America Foundation, stasiun radio tersebut mendokumentasikan serangan rudal drone Amerika Serikat yang mematikan di kedua wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan sejak 20 Januari telah meningkat sebesar 50 persen sejak administrasi Obama mengambil alih Gedung Putih tahun lalu.
Mengutip apa yang disebutkan think tank di atas, laporan Radio Australia mengatakan di masa lalu sudah terjadi 64 buah serangan drone mematikan di Asia Selatan dalam jangka waktu empat belas bulan, dibandingkan 45 buah serangan mematikan di bawah administrasi George Bush yang dilakukan antara bulan Oktober 2001 dan Januari tahun 2009 dalam invasinya ke Afghanistan.
Bill Roggio, editor the Long War Journal, dalam sebuah wawancara ia mengatakan "terjadi rata-rata lima sampai tujuh kali serangan setiap bulannya walaupun pada bulan Januari terjadi 11 kali serangan."
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa terjadi peningkatan serangan drone Amerika Serikat baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam perang di Afghanistan dan Pakistan: "Drone utama adalah 'Predator' yang membawa ‘Hellfire’ rudal anti-tank.
"The 'Reaper,' pendahulu Predator, mereka membuatnya sedemikian rupa sehingga bisa membawa rudal Hellfire yang lebih besar serta dapat membawa, lagi 500 pon GPS (global position system) – pemandu bom. Jadi, mereka sangat tahu, ini adalah semacam revolusi dalam peperangan udara. "[3]
The Reaper membawa seribu pon amunisi dan juga dilengkapi rudal pencari panas Sidewinder udara-ke-udara. Rencana untuk menambahkan rudal Stinger udara-ke-udara sedang dilakukan.
Dalam hal korban manusia dalam janji kampanye Obama 2008 mengenai perang Afghanistan adalah - "Jika kita memiliki data intelijen mengenai anggota tingkat tinggi al Qaeda di wilayah perbatasan Pakistan, kita harus bertindak jika Pakistan tidak akan atau tidak dapat melakukannya" - pada awal tahun ini harian Pakistan berpengaruh Dawn News mempublikasikan penjelasan tentang kebijakan apa yang dimaksudkan untuk Pakistan. Dalam sebuah artikel berjudul "Lebih dari 700 tewas dalam serangan 44 drone pada tahun 2009," kata sebuah sumber dengan mengutip statistik pemerintah Pakistan, menuliskan sbb:
"Dari 44 serangan Predator yang dilakukan oleh Amerika Serikat di wilayah kesukuan Pakistan selama 12 bulan, hanya lima yang mereka mampu menembak sasaran yang sebenarnya, menewaskan lima pimpinan kunci Al-Qaeda dan pemimpin Taliban, tapi dengan korban lebih dari 700 warga sipil tak berdosa."
Menurut pihak berwenang, untuk setiap yang dicurigai sebagai anggota al-Qaeda atau anggota Taliban yang tewas oleh rudal yang ditembakkan dari US drone "140 orang Pakistan tak berdosa juga harus mati. Lebih dari 90 persen dari mereka yang tewas dalam serangan rudal yang mematikan tersebut adalah warga sipil,.... Secara rata-rata, setiap bulan 58 warga sipil tewas dalam serangan ini, 12 orang setiap minggu dan hampir dua orang setiap hari."[4]
Mereka yang mati bersenjata atau tidak bersenjata, laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak-anak. Apa yang menjadi persamaan mereka adalah bahwa mereka menjadi sasaran berdasarkan informasi "intelijen" yang diberikan oleh seseorang yang berada di medan sasaran, dan korbannya belum tentu dari mereka yang memihak musuh.
Bulan Oktober lalu, sewaktu pembunuhan telah dimulai dengan sungguh-sungguh, Special Rapporteur on Extrajudicial ExecutionsPBB, Philip Alston memperingatkan:
"Yang Saya khawatirkan adalah bahwa drone ini, Predator ini, sedang dioperasikan dalam suatu kerangka kerja yang mungkin melanggar hukum kemanusiaan internasional dan hukum hak asasi manusia internasional.
"Tanggung jawab yang sebenarnya ada pada pemerintah Amerika Serikat untuk mengungkapkan lebih lanjut tentang cara-cara yang memastikan bahwa hal tersebut merupakan eksekusi sewenang-wenang, eksekusi di luar hukum padahal tidak, pada kenyataannya sedang dilaksanakan melalui penggunaan senjata-senjata ini." [5]
Amerika Serikat tidak gentar dan secara substansial semakin meningkatkan serangan-serangannya.
Januari ini Xinhua News Agency, Cina mewawancarai analis politik Pakistan Farrukh Saleem, mengatakan bahwa serangan rudal drone Amerika di Wilayah Kesukuan Pakistan yang Diperintah Federal telah meningkat dari 17 pada tahun 2008 menjadi 43 pada tahun 2009 dengan lebih dari 70 rudal drone diharapkan akan dikirimkan tahun ini.
Salim peringatan bahwa "serangan tersebut selalu memicu kekerasan, dan korban serangan bunuh diri di Pakistan. Jadi lebih banyak serangan drone berarti lebih banyak kekerasan di Pakistan."[6]
Pada hari yang sama Senator John McCain yang berada di ibukota Pakistan Islamabad, memuji serangan drone sebagai "bagian dari strategi Amerika Serikat yang efektif."[7]
Dilaporkan akhir Desember bahwa 17 serangan drone Amerika Serikat telah menewaskan sedikitnya 20 orang Pakistan di Waziristan Utara dan pada tanggal 27 Desember lebih dari 13 orang tewas di daerah yang sama.
Sejak Tahun Baru serangan mematikan mulai ditingkatkan. Berikut bukanlah usaha untuk membandingkan jumlah korban secara komprehensif, akan tetapi merupakan kumpulan dari berbagai laporan pers.
Predator
Gambar: pakistaniforpeace.wordpress.com
Tanggal 1 Januari dilaporkan bahwa lima orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka oleh dua serangan drone Amerika di timur ibukota Waziristan Utara. Mengenai identitas yang terbunuh, Reuters mengutip seorang pejabat keamanan setempat yang mengatakan, "Mayat-mayat itu terbakar dan tak bisa dikenali. Kami mencoba untuk menentukan identitas mereka."[8] malam sebelumnya dua orang lagi tewas dan beberapa terluka dalam serangan lain.
Laporan berlanjut merinci serangan rudal drone dan korban yang mati di daerah kesukuan.
Tanggal 3 Januari: Lima orang terbunuh di Waziristan Utara dalam serangan drone.
Tanggal 6 Januari: Sedikitnya tiga belas orang tewas dan delapan orang terluka oleh dua serangan rudal beruntun. "Menurut Pakistan Geo News, diduga dua bual rudal drone ditembakkan ke sebuah rumah di kawasan Datta Khel, dalam serangan pertama, menewaskan tujuh orang.
"Serangan lain terjadi yang menewaskan lima orang sewaktu penduduk setempat mulai mengevakuasi mayat dari puing-puing rumah. Identitas mereka yang tewas dalam serangan tersebut tidak diketahui. "[9]
Tanggal 8 Januari: Lima orang tewas di sebuah desa di Waziristan Utara.
Tanggal 9Januari: Sebuah drone Amerika menembakkan dua buah rudal ke sebuah desa, Ismail Khan, di Waziristan Utara yang menewaskan empat orang.
Tanggal 13 Januari: Tiga belas orang tewas di desa Tappi di wilayah yang sama. Seorang pejabat keamanan senior mengkonfirmasi jumlah korban tewas, dan mengatakan empat rudal ditembakkan dari pesawat tak berawak di daerah terpencil. [10]
Tangggal 15 Januari: Lima belas orang tewas di desa Zannini di Waziristan Utara. Enam orang tewas di desa Bichi.
Tanggal 17 Januari: Sedikitnya dua puluh orang tewas di wilayah Shaktoi Waziristan Selatan.
Tanggal 19 Januari: Menurut pejabat intelijen Pakistan enam orang tewas di desa di Waziristan Utara Booya.
Tanggal 24 Januari: Pemberontak Pakistan mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone Amerika Serikat di Waziristan Utara, salah satu dari delapan drones terlihat terbang di atas wilayah tersebut.
Tanggal 29 Januari: Dilaporkan antara enam dan lima belas orang tewas di Waziristan Utara, kota Muhammad Khel dalam serangan ke Jaringan Haqquani oleh tiga rudal Amerika.
Tanggal 2 Februari: Amerika Serikat menembakkan sebanyak delapan rudal ke empat desa di Waziristan Utara, menewaskan dua puluh sembilan orang.
Tanggal 14 Februari: Lima orang tewas dalam serangan drone di wilayah yang sama. Sedikitnya tiga orang lainnya luka-luka.
Tanggal 15 Februari: Sebuah serangan rudal drone diduga membunuh seorang pemimpin separatis Uighur Cina di wilayah yang sama.
Tanggal 17 Februari: Sebuah serangan rudal Amerika Serikat membunuh tiga orang dan melukai dua korban lainnya di Waziristan Utara.
Tanggal 18 Februari 18: Empat orang tewas dalam serangan rudal di sebuah kendaraan di wilayah yang sama.
Tanggal 24 Februari: Setidaknya tiga belas orang yang diduga militan tewas dalam serangan drone Amerika Serikat di wilayah Mandi Dargah, Waziristan Utara.
Tanggal 8 Maret: Sebuah drone Amerika menembakkan lima buah rudal ke sebuah rumah dekat Miranshah, ibukota Waziristan Utara, menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai empat orang lainnya.
Sekitar 160 orang tewas dalam serangan rudal drone di Pakistan sedikitnya dalam dua bulan tahun ini. Jika langkah tersebut berlanjut, tahun 2010 akan merupakan tahun yang jauh lebih mematikan dari tahun sebelumnya: 960 s/d 700. Jika jumlah serangan meningkat, seperti tampaknya lebih mungkin, jumlah korban tewas akan lebih tinggi hampir 140 persen meningkat di atas perhitungan ancaman.
Serangan dengan rudal drone semakin menjadi pilihan senjata bagi CIA Amerika Serikat -US Central Intelligence Agency (seperti di Pakistan, Afghanistan dan Irak), Gabungan Komando Operasi Khusus (Yaman) dan Angkatan Udara, pada tahun lalu telah memiliki 195 Predator dan 28 Reaper .
Semua menunjukkan bahwa mereka akan segera memiliki lebih banyak lagi Predator dan Reaper.
Tahun ini administrasi Obama telah meminta anggaran lebih sebesar $ 33 milyar lebih besar dari Kongres untuk anggaran perang di Afghanistan dan Irak "di atas permintaan rekor sebesar $ 708 miliar untuk Departemen Pertahanan tahun depan."[11]
Menurut Quadrennial Defense Review yang baru, "Penggunaan Drone tanpa awak merupakan prioritas dalam misi pemantauan dan menyerang di Afghanistan dan Pakistan, dengan tujuan mempercepat pembelian Reaper baru dan perluasan drone Predator srerta Reaper yang dicanangkan sampai 2013."[ 12]
Sebuah artikel yang dimuat tanggal 1 Februari berjudul " China, Iran Prompt U.S. Air-Sea Battle Plan in Strategy Review," mengungkapkan bahwa sejalan dengan Quadrennial Defense Review yg baru, sebuah rencana gabungan Angkatan Udara-Angkatan Laut akan mengkombinasikan kekuatan masing-masing dalam melaksanakan serangan jarak jauh yang dapat menggunakan generasi pembom baru, sebuah rudal baru dan pelontar drone dari pesawat yang membawanya. "[13]
Sebagaimana Amerika Serikat yang secara besar-besaran memperluas peningkatan militer di pulau Guam di Pasifik, "Angkatan Darat sedang membangun sistem pertahanan peluru kendali di pulau tersebut dan Angkatan Udara menambahkan lebih banyak lagi drone."[14]
Pada pertengahan Januari senator Amerika Serikat terkemuka Carl Levin menyerukan "untuk menggunakan drone dalam melancarkan serangan udara ke Yaman, dan menambah permintaan "kelengkapan segala sesuatu yang diperlukan dalam rangka memenuhi syarat-syarat penggunaan drone atau serangan udara samapi kepada operasi rahasia."[15]
Mengenai penguatan hubungan militer antara Amerika Serikat dengan Yaman, sebuah sumber berita Rusia mengungkapkan bahwa "Di bawah perjanjian kerjasama rahasia yang baru, Amerika Serikat akan mampu menerbangkan rudal jelajah, pesawat tempur atau pesawat tak berawak yang dipesenjatai drone terhadap target di negeri ini, tapi secara publik akan tetap dirahasiakan perannya dalam serangan udara."[16]

Pada akhir Januari Wall Street Journal melaporkan:
"Keterlibatan militer Amerika Serikat di Yaman sudah mulai tumbuh .... [T] Amerika Serikat telah meningkatkan jumlah kehadiran drone pesawat pengintai yang terbang di atas Yaman, serta jumlah pesawat tak berawak lainnya yang dilengkapi dengan rudal yang mampu menyerang sasaran di darat, hal tersebut disampaikan oleh pejabat senior Amerika Serikat yang mengetahui langsung tentang penyebaran pesawat tersebut.
"Sebagian besar operasi drone di luar Irak dan Afghanistan dikontrol oleh CIA (Central Intelligence Agency), tapi kata seorang pejabat, drone yang beroperasi dari Yaman milik gabungan rahasia militer Komando Operasi Khusus."[17]
Komandan Komando Operasi Khusus Gabungan hingga tahun 2008 adalah Jenderal Stanley McChrystal yang sekarang menjabat kepala komandan yang nantinya berupa 150.000 pasukan Amerika Serikat dan NATO di Afghanistan.
Rudal drone dan kelengkapannya merupakan pembunuh dan pembantai yang tanpa pilih bulu terhadap warga sipil, merupakan komponen integral dari strategi perang gerilya dan subversi di Asia Selatan. Peningkatan kualitatif serangan drone di Pakistan dan Afghanistan dimulai pada bulan Juni lalu ketika David McChrystal menggantikan McKiernan sebagai pemimpin pasukan Amerika Serikat dan NATO, yaitu Pasukan Bantuan Keamanan Internasional di Afghanistan.
Di bagian dunia lainnya, Pentagon memberikan kontribusi drone untuk manuver militer di Pesisir Utara Finlandia pada bulan September ini, "latihan militer angkatan laut terbesar yang pernah dilakukan di perairan Finlandia."[18]
Sebuah resolusi yang dikeluarkan oleh Pejuang Perdamaian Finlandia di Lapland, Finlandia bulan lalu menyebutkan dalam "sebuah program TV Finlandia mengenai Pesawat Udara Tanpa Awak yang sedang diuji di Kemijarvi Airfield. Daerah pelatihan ini sebenarnya membentang ke perbatasan Rusia dan mengikuti alur sepanjang perbatasan sejauh puluhan kilometer.
"Strategi untuk Star Wars, yang dikembangkan Amerika Serikat, yaitu alat berupa pesawat tanpa awak yang diarahkan dari pusat komando di Nevada, dan mengikuti gerakan dan medannya pada layar data yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya serta mengendalikan manuver drone. Drone ini telah digunakan di Afghanistan dan telah membunuh banyak warga sipil."[19]
Stanley McChrystal adalah komandan Komando Operasi Khusus Gabungan Amerika Serikat telah melakukan sebelas kali serangan dengan menggunakan Predator yang mematikan di Irak pada bulan April 2008. Pada waktu "Menteri Pertahanan Robert Gates mendesak Angkatan Udara untuk berbuat lebih banyak untuk melakukan serangan dengan Drone ke zona perang."
Sebuah koran Amerika melaporkan pada saat itu bahwa "Komandan diharapkan lebih mengandalkan sistem pesawat tak berawak karena tentara Amerika Serikat yang berjumlah 30.000 personel yang dikirim tahun lalu ditarik. Militer mempunyai lusinan Predator di Irak dan Afghanistan. Mereka sudah mengoperasikan 5.000 drone, 25 kali lebih banyak daripada yang pernah dioperasikan pada tahun 2001. "[20]
Desember tahun lalu pemerintah Venezuela menyerukan masyarakat dunia untuk mengutuk penyerangan drone oleh militer Amerika Serikat ke dalam wilayah udara yang dioperasikan dari Aruba dan dari Curacao di Netherlands Antilles. Jenis drone yang terbang selama beberapa hari di wilayah Venezuela belum bisa dispesifikasikan, tetapi di bawah kewajiban bilateral dan kewajiban militer NATO, Belanda tidak akan menolak hak Amerika Serikat menggunakan pangkalannya untuk Predator dan Reaper drone pada pangkalan-pangkalan di pulau Karibia koloni mereka.
Amerika Serikat tidak hanya meningkatkan arsenal pesawat udara tak berawaknya yang dua puluh lima kali lebih banyak selama dekade terakhir ini, juga secara besar-besaran meningkatkan jangkauan dan efek mematikan dari pemburu-pembunuh drone. Sebuah laporan baru-baru ini mengungkapkan bahwa mulai tahun 2008 Laboratorium Penelitian Angkatan Udara mulai "membangun robot yang paling handal untuk membunuh," digambarkan sebagai "kecil, dipersenjatai drone untuk pasukan khusus Amerika Serikat untuk melaksanakan tugas membunuh target orang-orang penting." [21]
Sebelumnya tim pasukan khusus dikerahkan atau rudal jelajah ditembakkan untuk membunuh korban yang menjadi target. Dalam kasus kedua dan sering, risikonya bahwa mereka tidak dapat menggunakan untuk yang kedua kalinya.
Predator dan Reaper drone kembali setelah melaksanakan misi dan rudal Hellfire diisi kembali untuk lebih lanjut melakukan serangan mematikan.
Drone telah menjadi pilihan Washington pada abad ke-21 ini sebagai senjata untuk melaksanakan pembunuhan internasional.
Oleh: Rick Rozoff
http://voa-islam.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar