Rabu, 08 Februari 2012

Ingrid Mattson Berhenti ke Gereja di Usia 16 Tahun



REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Masih ingat Ingrid Mattson,  salah satu tokoh yang diundang pada inaugurasi Barack Obama setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu dua tahun lalu? Dia yang  menjabat presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang kini cukup berpengaruh di Amerika Serikat. 

Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang filsafat dari Universitas Waterloo, Ontario, pada 1987. Sementara gelar PhD pada studi Islam ia peroleh dari Universitas Chicago pada 1999. Penelitiannya mengenai Hukum Islam dan Masyarakat. Selama kuliah di Chicago, ia banyak terlibat pada kegiatan komunitas Muslim lokal.

Ia duduk dalam jajaran Direktur Universal School di Bridgeview dan anggota komite Interfaith Committee of the Council of Islamic Organizations of Greater Chicago. Mattson juga pernah menetap di Pakistan dan bekerja sebagai pekerja sosial bagi pengungsi wanita Afghanistan selama kurun waktu 1987-1988. Pada 1995, ia ditunjuk sebagai penasihat bagi delegasi Afghanistan untuk PBB bagi Komisi yang membidangi Peran Perempuan.

Saat bekerja di kamp pengungsi di Pakistan inilah ia bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, Amer Aetak, seorang insinyur dari Mesir. Dari pernikahan mereka, pasangan ini dikaruniai seorang anak perempuan bernama Soumayya dan satu orang anak laki-laki bernama Ubayda.

Ingrid Mattson Berhenti ke Gereja di Usia 16 Tahun 

Karena pernikahankah ia berpindah agama? Tidak, ternyata. Ingrid mengenal Islam jauh sebelum itu. 

Tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, ia memutuskan berhenti pergi ke gereja pada usia 16 tahun. Ia mengemukakan alasan yang kemudian diterima oleh ayahnya, seorang pengacara: tidak bisa lagi percaya dengan apa yang diajarkan oleh gereja. 

Ia menjadi tak berama hingga menimba ilmu di Universitas Waterloo. Seni dan filsafat menjadi jurusan pilihannya. Bagai dipandu, bidang inilah yang kemudian hari mengantarkan pada cahaya Islam. 

   ****

''Setahun sebelum saya masuk Islam, saya banyak menghabiskan waktu saya mencari dan melihat hal-hal yang berhubungan dengan seni. Saat mengikuti pendidikan bidang filsafat dan seni rupa, saya duduk berjam-jam dalam ruang kelas yang gelap untuk melihat dan mendengarkan penjelasan profesor saya melalui infokus proyektor, tentang kehebatan hasil karya Seni Barat,'' paparnya.

Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo tempatnya bekerja kemudian, ia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Secara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, ia berjumpa dengan seorang Muslim. Ia menyebut momen tersebut sebagai "musim semi" dalam hidupnya. 

Gambaran mengenai Islam yang ia dapatkan dari kedua orang teman barunya ini, membawa Ingrid pada pengenalan wajah Islam. Ia menyatakan tertarik pada peradaban Islam tidak menganut sistem penggambaran sesuatu dalam bentuk visual di dalam memuja Tuhan dan menghargai seorang nabi.

''Allah adalah sesuatu yang tersembunyi. Tersembunyi dalam pantulan mata umat manusia. Tetapi, orang yang memiliki penglihatan dapat mengenali Tuhannya dengan melihat, mempelajari pengaruh dari kekuatan ciptaan-Nya.'' 

Ia pun mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga.

Perkenalan Ingrid tentang Islam makin berkembang saat ia berkunjung ke sejumlah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Beberapa peristiwa yang dia temui di negara-negara tersebut, diakuinya, makin mempertebal keyakinannya terhadap Islam. 

Maka di tahun yang sama, ia memutuskan bersyahadat dan menjadi Muslimah. Ia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. 

Pada tahun 1987 ia memutuskan pergi ke Pakistan sebagai relawan. Setahun ia mengabdikan diri bagi kemanusiaan. Ternyata di tempat yang sama, ada pula seorang pemuda yang juga menjadi relawan, Aamer Atek, seorang insinyur asal Mesir. Merasa sehati, keduanya memutuskan menikah. 

"Ibu-ibu Pakistan bertkaca-kaca saat saya bilang hanya emas sederhana sebagai mahar dan baju pengantin pinjaman. Di hari berikutnya, mereka datang dengan membawa segudang hadiah. Sungguh indah persaudaraan dalam Islam," ujarnya.

Islam dan Musik menjadi Misi Hidup Rapper Brother Ali

Islam dan Musik menjadi Misi Hidup Rapper Brother Ali

REPUBLIKA.CO.ID, "Rasul benar-benar contoh berjalan tentang keunggulan manusia dan beliau menunjukkan seluruh potensi dalam diri yang mungkin dilakukan sesorang," ujar Ali. Ia memiliki pemaparan menarik tentang alasan yang mengubah dirinya: seorang remaja pemarah yang berjuang hidup di Midwest menjadi bintang Hip-Hop yang akhirnya keliling dunia dengan musiknya.

"Ada banyak peristiwa yang berperan mengubah hidup saya," ujar Ali. Beberapa peristiwa besar itu ialah terlibat dengan Islam dan terlibat dengan musik.

Ali terlahir dengan nama Jason Newman. Ia memiliki kelainan genetika pigmen, Albino yang juga kerap disertai gangguan penglihatan.

Masa kecilnya diwarnai dengan sikap kejam dan penolakan dari teman-teman kulit putihnya. "Saat anak-anak saya seperti orang buangan," kenangnya. Ia justru menemukan rumah ketika bersama teman-temanya Afro-Amerika.

"Ketika saya lewat melintas kerumunan kulit putih dan mendengar semua kata-kata rasisme dan supremasi kulit putih, sungguh membuat saya bingung dan kesal."

Namun Ali, 33 tahun, mengatakan Islam yang ia peluk pada usia 15 tahun telah membantunya melalui masa-masa sulitnya. Ia berpisah dengan istrinya yang ia nikahi selama 10 tahun, sempat menjadi gelandangan dan kini tengah mencoba mengamankan hak asuh atas anak lelakinya. "Islam telah membantu saya dari banyak hal tadi. Agama ini membantu saya memahami diri saya dan dunia lebih baik,"

Misi

Bagi Ali, yang baru-baru ini membungkus tur keliling dunia untuk mempromosikan album 'US', menjadi solid dengan keyakinannya di tengah kaum elit Hip-Hop bukanlah hal mudah. Namun, begitu ia mengingat Rasul Muhammad, ia bisa menjadi pribadi lebih sabar dan teguh.

"Salah satu pesan utama lewat Al Qur'an dan dari tradisi Rasul Muhammad adalah ide keunggulan, bahwa semua yang Muslim lakukan, mereka ingin melakukan dengan sempurna dan selalu ingin berkualitas. Saya sangat terinspirasi oleh itu," ujarnya. Ali pun meyakini dengnan musiknya dan keyakinan Islam-nya, ia menjalankan misi tersebut.

"Saya percaya inilah alasan mengapa saya dilahirkan, ini pekerjaan saya dan tujuan saya sebagai Muslim, untuk melakukan terbaik yang bisa saya lakukan." ujarnya. Lirik lagu-lagunya menyoal semua perjuangan hidupnya, mulai masalah rasisme di Amerika hingga perang. Khusus dalam album terakhir ia menulis sebuah lagu tentng perang.

"Kita sebagai warga Amerika dibuat untuk melekat dengan patriotisme buta. Saya membuat lagi tentang perasaan ini, tentang sisi bawah Amerika yang kita tak pernah benar-benar dengar," paparnya.

"Karena lagu ini saya kehilangan satu kesempatan tur yang selama ini saya tunggu. Ketika kami di Australia, Departemen Keamanan Dalam Negeri membekukan semua data kami. Saya duga lagu tersebut dan kontroversinya yang menyebabkan itu semua," tutur Ali.

Namun Ali, ayah dari Seorang putra Fahim, 9 tahun, dan putri, Soulaila, 2 tahun, mengaku tidak ingin mengompromikan keyakinannya. "Apa yang penting ketika menerapkan Islam dalam kehidupan adalah tidak berpura-pura menjadi orang lain. Itulah mengapa dalam musik saya, saya mencoba tidak bersikap munafik dan mengekspresikannya dengan cara paling paling jujur."

Richard Dickson Crane, Penasihat Presiden yang Terpesona oleh Shalat

Richard Dickson Crane, Penasihat Presiden yang Terpesona oleh Shalat


REPUBLIKA.CO.ID, Berbagai posisi penting dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) pernah ditempati Robert Dickson Crane. Dia pernah menjabat sebagai penasihat politik luar negeri untuk Presiden AS ke-37, Richard Nixon, dari 1963 sampai 1968, dan untuk waktu yang sangat singkat menjabat wakil direktur perencanaan Dewan Keamanan Nasional pada masa pemerintahan Nixon, serta menjadi duta besar untuk Uni Emirat Arab (UEA) di masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Setelah memeluk Islam, lelaki kelahiran Cambridge, Massachusetts, AS, 26 Maret 1929 ini lebih banyak berkecimpung dalam berbagai kegiatan yang mengkampanyekan tentang Islam.

Nenek moyang Crane dari garis ibu berasal dari daratan Eropa yang bermigrasi ke wilayah Amerika. Keluarganya datang ke New Haven, Connecticut, pada 1636. Beberapa di antara mereka menetap di Elizabethtown (sekarang Elizabeth), New Jersey. Sementara nenek dari pihak ayahnya berasal dari suku Indian Cherokee.

Meski berasal dari kalangan suku Indian, namun keluarga besar Crane tetap menomor satukan urusan pendidikan. Ayah Crane merupakan seorang pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Harvard. Sementara keluarga besar ibunya dikenal publik Amerika sebagai salah satu penyokong finansial Universitas Northwestern. Karenanya tak mengherankan jika sedari kecil hingga dewasa ia mendapatkan pendidikan yang memadai.

Selepas menamatkan pendidikan menengah atas, Crane sempat berkuliah di Universitas Harvard, namun tidak sampai tamat. Kemudian ia melanjutkan pendidikan setingkat sarjana muda di Universitas Northwestern. Setelah lulus dari Northwestern, ia diminta untuk membantu menjalankan usaha keluarga. Kemudian kedua orang tuanya memintanya untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Harvard.

Sejak muda, Crane gemar menulis berbagai artikel. Salah satu artikel yang pernah ditulisnya adalah mengenai strategi ruang angkasa Soviet. Ketika pecah Krisis Misil Kuba, ia menulis sebuah artikel panjang tentang strategi perang psikis. 

Tanpa ia duga artikel tersebut dibaca oleh mantan orang nomor satu di Amerika, Richard Nixon. Nixon membacanya di atas pesawat dalam penerbangan dari California ke New York. ''Dia memanggil saya segera setelah mendarat, pada Januari 1963, dan bertanya apakah saya bersedia menjadi penasihatnya untuk urusan politik luar negeri.''

Sebagai penasihat presiden tentunya ia harus menguasai berbagai aspek persoalan terkait dengan politik luar negeri. Tugas utamanya saat itu adalah mengumpulkan artikel-artikel terbaik pada setiap pokok persoalan dan menggabungkan semua artikel tersebut menjadi buku ringkasan untuk dibaca oleh Nixon yang kala itu menjabat sebagai Wakil Presiden.

Nixon memang dikenal gemar membaca. Berbagai macam artikel dibacanya, salah satunya adalah mengenai agama. Ia tertarik untuk membaca tentang bermacam-macam agama. Dan dia ingin mengetahui tentang Islam. ''Saat itu saya telah membaca sedikit tentang Islam, sebab saya pikir Islam akan menjadi sekutu Amerika Serikat yang paling kuat dan tahan lama untuk melawan Komunisme. Sebab kami berdua, saya dan Nixon, memandang Komunisme sebagai ancaman dunia,'' ungkap Crane.

Saat Nixon hendak mencalonkan diri sebagai Presiden AS, Crane termasuk salah satu orang terdekat Nixon yang tidak memberikan dukungan. Terlebih lagi pemikirannya yang kerap bersebrangan dengan ketua tim sukses Henry Kissinger, membuatnya disingkirkan selama masa kampanye 1968. Setelah terpilih menjadi Presiden AS ke-37, Nixon menunjuk Crane menjadi wakil direktur perencanaan untuk Dewan Keamanan Nasional. Sementara posisi direktur dipegang oleh Kissinger. Namun, hubungannya yang kurang harmonis dengan Kissinger membuat Crane tersingkir dari Dewan Keamanan Nasional.

Crane mengakui pada awalnya ia tidak pernah memikirkan Islam secara serius. Yang diketahuinya tentang Islam hanyalah bahwa orang Muslim yang baik harus membunuh orang Kristen dan surga orang Muslim seperti rumah pelacuran. ''Saya sangat muak dan tidak pernah berhasrat mempelajari agama ini. Agama ini sangat primitif. Dan saya menasihati Nixon untuk menggunakan Islam sebagai sekutu untuk melawan Komunis. Saya pikir Islam adalah agama yang menjijikkan, tetapi paling tidak, dapat digunakan untuk melawan Komunisme.''

Tetapi, sebuah perjamuan makan di Bahrain mengubah pandangannya tentang Islam. Saat itu musim panas tahun 1977, Crane beserta istrinya sedang berada di Bahrain. Di tengah suhu yang tidak bersahabat, jauh di atas 100 derajat, sang istri memintanya menemani melihat-lihat istana di Al-Muharraq, yang merupakan kota dagang tertua di dunia. Kota ini hanya terdiri dari lorong-lorong sempit, seperti sebuah jaringan jalan yang semrawut.

Kondisi jalan yang semrawut ini membuat Crane dan istrinya tersesat di tengah keramaian. Dalam kondisi bingung, tiba-tiba ada orang tua lewat di depannya dan mengajak Crane ke rumahnya yang berada tidak jauh dari lokasinya saat itu. Crane beserta istri kemudian menghabiskan sisa hari mereka di sana. Sang tuan rumah menjamu mereka dengan berbagai macam makanan. ''Kami berbicara tentang berbagai hal, dan dia mengatakan bahwa dia seorang Muslim. Saya sungguh terpesona karena dia benar-benar orang baik. Kami tidak pernah membicarakan tentang Islam. Kami berbincang tentang apa-apa yang baik di dunia, tentang hal-hal yang buruk di dunia, dan tentang apa yang penting di dunia. Juga tentang peran Tuhan di dunia, tetapi tidak mengenai agama Islam,'' paparnya.

Momen tersebut benar-benar membekas dalam dirinya. Setelah perjamuan tersebut, Crane mulai berpikir apakah sebaiknya ia mulai mempelajari agama Islam. Ia pun mempelajari Islam, dan menyadari bahwa segala sesuatu dalam Islam adalah benar-benar apa yang selama ini selalu diyakininya.

Pada tahun 1980, ia berkesempatan mengikuti sebuah konferensi tentang gerakan Islam di New Hampshire. Seluruh pemikir besar dari gerakan Islam dunia hadir di sana. Ketika waktu makan siang tiba, Crane lebih memilih bergabung bersama para tamu asing. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanyalah keinginan untuk belajar sebanyak mungkin dari mereka.

Tanpa banyak bertanya, Crane kemudian mengikuti langkah para delegasi asing ini ke sebuah ruangan yang lantainya ditutupi permadani. Semula ia mengira mereka akan makan siang. Namun, dia baru menyadari kalau hari itu adalah hari Jum'at. ''Mereka akan melakukan shalat Jum'at. Saya memutuskan sebaiknya saya meninggalkan mereka. Tetapi saya pikir itu akan menyinggung perasaan mereka. Lalu saya hanya duduk di bagian belakang ruangan,'' ujarnya mengenang peristiwa tersebut.

Yang bertindak selaku imam shalat saat itu adalah Hasan Al-Turabi, seorang tokoh terkemuka gerakan Islam internasional asal Sudan. Menyaksikan Al-Turabi bersujud, Crane pun terhenyak sesaat. ''Saya menyadari bahwa dia membungkuk kepada Allah.  Jika dia dapat bersujud kepada Allah maka itu artinya dia sepuluh kali lebih baik dari saya. Saya memutuskan bahwa saya juga harus bersujud,'' ujarnya. Dia merasa mendapatkan teladan dari situ. Saat itu juga, Crane bersujud dan memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

Mualaf Kari Ansari: Tiap Natal Tiba, Saya Serasa Memperbaharui Iman

Mualaf Kari Ansari: Tiap Natal Tiba, Saya Serasa Memperbaharui Iman


REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA--Tiap Natal, Kari Ansari seolah tengah memutar ingatan masa silam. Ia menikmati Natal sekadar sebagai: rumah dihiasi dengan suasana musim dingin kendati di luar suhu tak sedang dingin, nyanyian sepanjang hari, dan makanan lezat. Tak ada ritual apapun yang dilakukan keluarganya.

Ia menemukan semangat Natal, justru setelah menjadi Muslim. Tafsir surat Maryam ayat 45-47, menjelaskan semuanya. Natal baginya adalah penyemangat untuk memperbaharui iman. "Ketabahan Mariam menerima takdir Allah, sungguh luar biasa," ujarnya.

Menurutnya, surat Maryam dalam Alquran mempunyai arti tersendiri baginya. "Jika ada pihak yang menanyakan bagaimana penghargaan Islam akan wanita, lihatlah surat itu. Agama mana yang menjadikan nama perempuan sebagai bab tersendiri dalam kitab sucinya," ujarnya.

Kari Ansari adalah salah satu jurnalis dan kolumnis di Amerika Serikat yang cukup diperhitungkan. Opininya banyak dimuat di surat kabar ternama AS. Ia juga merupakan salah satu pendiri majalah Muslim Family.

Kari dibesarkan di California Selatan  dalam keluarga Kristen yang ia sebut non-praktisi. "Saya hanya hafal lagu Holy Night. Beberapa kali kami pergi ke gereja pada hari Minggu atau saat Paskah, namun kami lebih sering memanggang steak saja pada hari-hari itu," ujarnya.

Tuhan yang dikenalnya, lebih digunakan sebagai "momok" ketimbang untuk dipuja. "Ketika saya melakukan sesuatu kesalahantanpa sepengetahuan orang tua saya, mereka akan membentak saya untuk mengaku dengan mengatakan, 'Yesus tahu apa yang kau lakukan'. Kalimat 'Yesus tahu' menjadi makin samar di udara ketika saya tumbuh dewasa," ujarnya.

Ia mengaku tahu tentang agama dan nabi-nabi, dari selebaran dan leaflet. "Saya membaca semua kisah mereka, tapi apa yang menurut saya kurang adalah konteks dan relevansi dari hidup mereka untuk saya," ujarnya.

Tumbuh dewasa, ia memutuskan tak memilih agama apapun. "Selama aku menjadi orang yang baik dan menjalani kehidupan beretika, Tuhan akan mencintaiku,"  demikian ia menguatkan batinnya.

Ia mengambang selama bertahun-tahun. "Saya kemudian menikah, berumah tangga, memiliki karir yang sukses, dan memulai sebuah keluarga dengan kelahiran anak saya yang sangat berharga, tetapi tetap tidak  membawa kepuasan batin," ujarnya. Hingga akhirnya di usia 30 tahun, ia memutuskan bercerai dan menjadi orang tua tunggal.

Dalam kekosongan batin, ia menemukan Ahmed, seorang seniman asal  Bombay. Dia seorang Muslim, namun tak pernah memaksanya untuk turut menjadi Muslim. Pun ketika dia meminangnya. "Saya tak punya niat menjadi Muslimah setelah diperistri Ahmed," ujarnya. Namun mereka sudah berkomitmen, jika mempunyai anak, maka anak-anaknya akan mengikuti agama ayahnya.

Dari Ahmed, ia melihat kelembutan Islam,  jauh dari yang digambarkan Barat tentang agama yang sebelumnya asing baginya itu. "Saya seperti mempunyai jendela yang berbeda tentang Islam melalui dia, dan saya setuju untuk menikah dengannya," tambahnya.

Tahun-tahun awal pernikahan, ia kerap diam-diam mengintip suaminya shalat. Sang suami juga tidak rewel tentang makanan saat ia menjalani puasa Ramadhan, bahkan dilakukan tanpa ia menyadari sang suami tengah menjalankan perintah agamanya.

Ia mulai mempertanyakan konsep yang dianutnya: bahwa Tuhan akan sayang padanya jika dia berbuat baik. "Saya menyadari bahwa bagaimana Tuhan akan baik pada saya kalau saya tidak ada hubungan dengan Allah. Tapi saya masih  takut Islam."

Beberapa tahun kemudian ia melahirkan bayi perempuan. Ahmed membisikkan adzan, hanya sesaat setelah bayinya lahir. "Itu kali pertama saya menangis: ya, dia akan menjadi seorang Muslim," ujarnya.

Sesuai komitmen mereka, sang anak akan dibesarkan dengan cara Islam. "Tapi bagaimana saya bisa mendidiknya dengan baik jika saya tak tahu secuilpun tentang islam," ujarnya.

Maka ia belajar membaca Alquran. Namun makin banyak ayat yang ia baca, makin ia jatuh hati pada Islam. "Saya mendapatkan penjelasan tentang Ibrahim, Musa, Yusuf dan Isa secara jelas dan masuk akal justru dalam Quran," katanya.

Tambah jatuh hati, ketika ia membaca riwayat Nabi Muhammad SAW. "Muhammad bukan Tuhan dan tak pernah diklaim umatnya sebagai Tuhan. Ia tertawa,  menangis,  menunjukkan ketidaksenangan, dan frustrasi. Ia lembut, tapi tegas, dan ia kuat namun juga rentan. Saya terinspirasi dan tergerak ," ujarnya.

Setelah sekitar satu tahun membaca dan berpikir, ia mantap berislam, tepatnya di suatu hari di Bulan Desember, 13 tahun lalu. "Saya merasa Tuhan berbicara kepada saya melalui Quran dan kehidupan ini. Aku harus berangkat untuk membimbing anak saya dalam Islam. Ya, saya kini menemukan Allah, dan Islam menemukan saya."

Jumat, 13 Januari 2012

TUHAN pintar ko'

 Semua berawal karena keinginan adikku yang ketiga ... setelah menyelesaikan sekolah menengah umum, ia berbisik pada ibu mau kuliah. ia tahu hal itu akan ditentang oleh saudaranya yang lain. alasannya jelas, soal ekonomi, adikku pun sangat mengerti keadaan itu. apa yang dipikirnya saat itu tak ada yang tahu, keadaan yang sempit membuatnya sangat berhati-hati mengungkapkan keinginannya. 

Dan ibu ... dia sungguh seorang sarjana tanpa titel, seorang sarjana kehidupan. tanpa berpikir panjang, tanpa menimbang dengan lantang ia berkata dengan logat bugisnya. yang artinya ... 
"kalau mau kuliah, kuliah yang benar. rezeki itu urusannya tuhan" 

Ayahku hanya seorang tukang ojek, subuh hari ia berangkat. maka setelah kami berangkat sekolah ibu pun kepasar dengan berjalan kaki untuk belanja tanpa uang sepeserpun. harapannya ayah sudah mendapat rezeki. dia menunggu disudut pasar sambil terus mengawasi pangkalan ojek, terus menunggu hingga ayah kembali kepangkalan ojek. begitulah kehidupan mengawal kami. 

Lagi-lagi ibu ... membuatku terhenyak. ia dengan yakinnya meluluskan keinginan adikku untuk kuliah. biaya kuliah yang bejibun membayang seperti hantu dalam keluarga kami. sibungsu, kesayangannya sempat berkomentar pesimis, tak digubrisnya. seperti pada ibu umumnya, pagi-pagi sekali ia persiapkan kebutuhan adikku untuk berangkat keluar kota (karena dikota kami belum ada tempat kuliah). kami ikut sibuk ... tapi sedikit aneh dengan penampilan ibu. ia memakai pakaian terbaiknya, satu-satunya yang ia miliki. 

" ibu mau kemana?" tanyaku 
" mau temani adekmu nanti dia gak tahu jalan, itu kota besar" 

Rasanya aku ingin tertawa terbahak saat itu, kulirik adikku yang hanya tersenyum sambil menatap ibu denga raut yang sulit aku gambarkan. tapi hari ini (setiap mengingat kejadian itu aku selalu menangis) itulah nurani seorang ibu yang baru aku pahami hari ini. 

Benar saja kata ibu ... rezeki itu urusan ALLAH. 
Ujian kehidupan kembali mengawal kehidupan kami, adikku tidak lolos UMPTN, bahkan seleksi dibeberapa kampus. namun harapan itu datang saat ia dimasukkan sebagai cadangan, lalu ditawarin sebuah kelas elit yang bayarannya nauzubillah dua kali lipat. semua terdiam (kami tanpa dikoordinir selalu duduk bersama untuk membicarakan sesuatu) 

Ayah, rautnya sudah bicara 'ini berat' walau ia tetap diam. kakakku terlihat santai dan hanya bilang 'terserah', sibungsu tertunduk dalam, sangat dalam. sikapnya menunjukkan 'coba pikir lagi, kasihan orangtua kita'. dan aku ... demi melihat ibu, aku sudah menemukan keputusannya 

" oke ... kuliah" kataku dengan keras. esok adalah tanda tanya. rapat itu berakhir tanpa perdebatan, adu urat, otot. itu soal biasa tapi hari ini aku sadari itu luar biasa.

Hidup makin berat, tapi ibu sedikitpun tak pernah mengeluh (sumpah demi ALLAH) hanya fisiknya yang berkata terlalu jujur sangat jujur. tapi kami tak sedikitpun memperhatikannya, kami sibuk dengan keinginan kami dan selalu ibu sibuk untuk mewujudkannya. ibu adalah orang yang tak pernah menyembunyikan uang sepeserpun dari kami. tidak ada maka dia akan bilang tidak ada, jika ada maka ia pun akan menghabiskan untuk kami. 

Meski sulit kahidupan kami terus bergulir, setiap tahapan bisa kami lalui, kami tetap bersama. dalam hal materi kami memang kesulitan tapi rezeki datang dalam bentuk lain dan selalu tak terduga. sibungsu yang sekolah di SMU elit (itu juga karena perjuangan ibu) lulus dengan nilai memuaskan masuk dalam 10 besar yang terbaik. ia pun dikirim ke Bali untuk bekerja, karena ia mengambil jurusan NPL. padahal kamipun menawarkan ia kuliah meski akhirnya tetap memilih untuk pergi ke bali selama 3 tahun. dari saat itu beban materi sedikit terobati, ia mau membantu membiayai kuliah sang kakak. 

Lalu ibu lagi-lagi berada digarda terdepan, saat ayah pasrah tanpa berani memutuskan apa-apa. kami akhirnya pindah kekampung halaman, ibu berkeras. rumah kami hendak disewakan untuk menutupi biaya kuliah adikku. kakak yang seorang guru tinggal diperumahan yang disediakan oleh yayasan. ibu masih punya rumah dikampung, rumah tua yang nyaris roboh. aku awalnya sangat menentang, demi membayangkan tinggal disebuah perkampungan nelayan. tapi ibu berkeras, demi adikku. 

Sungguh saat itu aku tak mau menerima.dikota ini, segalanya ada meski tak bisa terbeli. hanya saja kondisi dikota ini jauh labih baik. aku malah berpikir pindah ke kampung adalah sebuah kemunduran. karena aku anak gadis dan belum menikah maka aku wajib ikut. kehidupan setelahnya tak lantas mudah karena uang yang ada selalu lari pada adikku yang kuliah, perlahan aku mulai menerima keadaan semua berkat ibu yang tak pernah mengeluh, ia kerjakan semua termasuk berkebun yang masya ALLAH beratnya minta ampun sampai membuat ayahku jatuh sakit dan orang-orang berpikiran ia akan segera meninggal. 
 
Dan lagi ... ibu ... bahkan disaat seperti itu masih berkata 'ini rezeki ALLAH, yang sabar'. dan benar rezeki itu punya ALLAH. ayah pulih dalam kurun waktu 6 bulan. (sampai hari ini ia tetap segar bugar bahkan perutnya membuncit). 

Dua tahun berlalu ... adikku akan diwisuda. saat itu pertama kali aku lihat ibu menabung. belakangan baru aku tahu uang itu ia pakai untuk membeli baju, dan itu baju termahal yang pernah ia beli 300.000,-. rumah kami ambil kembali dan meminta kakak menempatinya. rumah terbaik bagi kami karena rumah itu tempat kami menikmati kepayahan hidup, meski tanpa air mata karena ibu, semua karena ibu. semua terlewati dengan mudah. 

Hari membanggakan itu datang, meski tak masuk dalam jajaran mahasiswa teladan. ibu tetap sangat bangga. berdiri diantara para orang tua mahasiswa lain, ia tampak sangat megah. matanya tak lepas memandang adikku yang duduk ditengah kerubungan mahasiswa lain, dengan seragam yang sama tapi ibu tahu itu anaknya dan terus memandangnya. kala nama adikku dipanggil ia berdiri dengan tubuh bergetar matanya berkaca-kaca tapi terus ditahan, sampai akhirnya setitik air jatuh dangan indah dipipinya. aku tak lagi memperhatikan apa yang terjadi didepan, aku hanya memperhatikan ibu. aku tidak bangga dengan apa yang dicapai adikku ... tapi aku sangat bangga dengan pencapaian ibuku. 

Ibu seorang yatim piatu sejak usia 3 bulan, tak pernah menginjak bangku sekolah tak mengerti huruf. tapi dia tahu "tuhan itu pintar" itu yang ia pahami dan yakini sampai hari ini. dan hari ini aku melihat keyakinan itu dari ibu. 

Aku dedikasikan ini untuk ibu ... "ALLAH memberiku hal terbaik dalam hidupku yaitu dirimu...IBU"

Masih Haruskah Berpacaran ???

lucuAllah memberikan rizki sesuai dengan kebutuhan hambaNya dan di waktu yang menurut Allah terbaik untuk kita mendapatkannya. Jodoh adalah salah satu rizki yang Allah persiapkan untuk kita. 

Allah akan memberikan jodoh pada kita di saat yang tepat. Bukan sesuai dengan keinginan kita. Seringnya kita menginginkan sesuatu hanya berdasarkan pada keinginan bukan pada kebutuhan. Allah Maha Tahu, kapan kita akan siap untuk menerima sebuah tanggung jawab besar untuk membentuk suatu peradaban kecil yang di mulai dari sebuah keluarga. 

Karena menikah bukan hanya penyatuan dua insan berbeda dalam satu bahtera tanpa visi dan tujuan yang pasti, berlayar tanpa arah atau berlayar hanya menuju samudera duniawi. Menikah adalah penggenapan setengah agama karena menikah adalah sarana ibadah kepada Allah. Dalam tiap perbuatan di dalam rumah tangga dengan berdasarkan keikhlasan dan ketaqwaan maka ganjarannya adalah pahala. Tapi jika menikah hanya berdasarkan nafsu atau bahkan mengikuti perputaran kehidupan dunia, maka hasilnya pun akan sesuai dengan yang di niatkan. 

Karena menikah adalah ibadah. Menikah adalah sunnah di anjurkan Rasulullah. Menimbun pahala yang terserak di dalam rumah tangga. Dan semua manusia yang normal pasti akan mendambakan suatu pernikahan. Merasakan suatu episode hidup dimana kita akan memulai segala sesuatu yang baru. Yang dahulu kita berperan sebagai seorang anak dengan berbagai kebahagiaan bermandikan kasih sayang orang tua. Maka menikah adalah suatu gerbang menuju pembelajaran menjadi orang tua kelak. Kita bukan lagi sebagai penumpang di mana mengikuti arah kehidupan yang di tentukan orang tua, melainkan kita akan menjadi driver untuk kehidupan kita sendiri kelak. Kita bisa saja mengikuti jalur yang telah di lewati orang tua, jika memang itu jalur yang tepat. Tapi jika jalur itu tak sesuai dengan arah tujuan kehidupan rumah tangga kita yaitu jalur keridhoan Allah, maka kita pun harus mencari jalur yang tepat. 

Karena menikah itu adalah satu kebaikan maka seharusnya harus di mulai dengan yang baik pula. Misalnya, ketika kita ingin lulus ujian, maka kita harus belajar yang giat bukan bermalas-malasan. 

Ayat Allah masih jelas tertera dalam kitabNya, bahwa pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula dan sebaliknya. Dan ayat itu masih sama dengan pada saat Allah turunkan beribu tahun yang lalu. Janji Allah pun tergambar melalui ayat itu dan Allah Maha Menepati janji. Lalu mengapa kita masih meragukan janji Allah itu ?? 

Masih haruskah berpacaran ?? 
Mengenal lawan jenis dengan dalih untuk mengenal pribadi masing-masing. Padahal kenyataannya, hanya sedikit kejujuran yang di tampakkan pada saat pacaran. Rasa takut yang besar untuk di tinggal pasangannya atau hendak mengambil hati pasangannya membuat mereka menyembunyikan keburukan yang terdapat dalam dirinya. Sudah menjadi rahasia umum, jika usia pacaran yang lama tak menjamin bahwa itu menjadi suatu jalan untuk memuluskan hubungan menuju jenjang pernikahan. Sudah tak menjamin adanya pernikahan setelah sekian lama menjalin masa pacaran, juga banyak di bumbui pelanggaran terhadap rambu-rambu Allah. Maksiat yang terasa nikmat. 
Zaman sekarang, berpacaran sudah selayaknya menjadi pasangan suami istri. Si pria seolah menjadi hak milik wanita dan si wanita kepunyaan pribadi si pria. Merekapun bebas melakukan apapun sesuai keinginan mereka. Yang terparah adalah sudah hilangnya rasa malu ketika melakukan hubungan suami istri dengan sang pacar yang notabene bukan mahram. Padahal pengesahan hubungan berpacaran hanya berupa ucapan yang biasa di sebut “nembak”, misalnya “ I Love You, maukah kau menjadi pacarku ?” dan di terima dengan ucapan “I Love You too, aku mau jadi pacarmu”. Atau sejenisnya. Hanya itu. Tanpa adanya perjanjian yang kuat (mitsaqan ghaliza) antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Tanpa adanya akad yang menghalalkan hubungan tersebut. Hubungan pacaran tak ada pertanggungjawaban kecuali pelanggaran terhadap aturan Allah. Karena tak ada yang namanya pacaran islami, pacaran sehat atau apalah namanya untuk melegalkan hubungan tersebut. 

Kita berlelah melakukan hubungan pacaran. Melakukan apapun guna menyenangkan hati sang kekasih (yang belum halal) meskipun hati kita menolak. Jungkir balik kita mempermainkan hati. Hingga suka dan sedih karena cinta, cinta terlarang. Hati dan otak di penuhi hanya dengan masalah cinta. Kita menangis karena cinta, kita tertawa karena cinta, kita meraung-meraung di tinggal cinta, kita pun mengemis cinta. Hingga tak ada tempat untuk otak memikirkan hal positif lainnya. Tapi sayang, itu hanya cinta semu. Sesuatu yang semu adalah kesia-siaan. Kita berkorban mengatasnamakan cinta semu. Seorang pacar, hebatnya bisa menggantikan prioritas seorang anak untuk menghormati orangtua. Tak sedikit yang lebih senang berdua-duaan dengan sang pacar di banding menemani orangtua. Pacar bisa jadi lebih tau sedang dimana seorang anak di banding orangtuanya sendiri. Seseorang akan rela menyenangkan hati pacarnya untuk di belikan sesuatu yang di suka di bandingkan memberikan kejutan untuk seorang ibu yang melahirkannya. Seseorang akan lebih menurut pada perintah sang pacar di banding orangtuanya. Hubungan yang baru terjalin bisa menggantikan hubungan lahiriyah dan bathiniyah seorang anak dengan orangtua. 

Jikapun akhirnya menikah, maka tak ada lagi sesuatu yang spesial untuk di persembahkan pada pasangannya. Sebuah rasa yang seharusnya di peruntukkan untuk pasangannya karena telah di umbar sebelumnya, maka akan menjadi hal yang biasa. Tak ada lagi rasa “greget”, karena masing-masing telah mendapatkan apa yang di inginkan pada masa berpacaran. Bisa jadi, akibat mendapatkan sesuatu belum pada waktunya maka ikrar suci pernikahan bukan menjadi sesuatu yang sakral dan mudah di permainkan. Na’udzubillah. 

Parahnya jika tiba-tiba hubungan pacaran itu kandas, hanya dengan sebuah kata “PUTUS” maka kebanyakan akan menjadi sebuah permusuhan. Apalagi jika di sebabkan hal yang kurang baik misalnya perselingkuhan. Kembali hati yang menanggung akibatnya. Kesedihan yang berlebihan hingga beberapa lama. Hati yang terlanjur memendam benci. Tak sedikit yang teramat merasakan patah hati di karenakan cinta berlebihan menyebabkannya sakit secara fisik dan psikis. Juga ada beberapa kasus bunuh diri karena tak kuat menahan kesedihan akibat patah hati. 

Terdengar berlebihan. Tapi itulah kenyataannya, hati adalah suatu organ yang sensitif. Bisa naik secara drastis, tak jarang bisa jatuh langsung menghantam ke bumi. Apa yang di rasakan hati akan terlihat pada sikap dan prilaku. Hati yang terpenuhi nafsu akan enggan menerima hal baik. Ada orang bilang, jangan pernah bermain dengan hati. Karena dari mata turun ke hati, kemudian tak akan turun kembali. Akan ada sebuah rasa akan mengendap di dalam hati. Jika rasa itu baik dan di tujukan pada seseorang yang halal (suami atau istri) maka kebaikan akan terpancar secara lahiriyah. Bukan sebuah melankolisme yang kini merajalela. 

Banyak pelajaran dari sekitar. Kenapa masih harus berpacaran ?? 
Karena ingin ada teman yang selalu setia mendengar tiap keluh kesah ?? Tak selamanya manusia bisa dengan rela mendengarkan keluhan manusia lainnya. Hanya Allah yang tak pernah berpaling untuk hambaNya. Bisa jadi secara fisik sang pacar rela mendengar dengan seksama, tapi dia juga manusia yang akan merasa bosan jika selalu di cecoki dengan berbagai keluhan. 

Malu di bilang jomblo ?? 
Jika dengan jomblo kita bisa terbebas dari rasa yang terlarang, kenapa harus malu ?? justru kita akan merasa nyaman bercengkerama dengan Allah karena sadar hati kita hanya patut di tujukan kepadaNya bukan yang lain. Justru kita harus bangga, di saat yang lain berlomba untuk melakukan hal terlarang tapi kita menjauhinya. Kemudian tak akan ada perasaan was was karena telah melanggar aturan Allah. Kita bebas berkumpul dengan kawan-kawan tanpa ada kekangan dari orang yang sesungguhnya tak memiliki kewenangan terhadap diri kita. 

Mungkin masih banyak lagi kesia-siaan dalam berpacaran. Dan sesungguhnya belum tentu sang pacar akan menjadi pasangan kita kelak. 

Pacaran ibarat minuman beralkohol, banyak yang mengelak bahwa dengan berpacaran mereka memiliki semangat baru dan sederet hal positif yang mereka kumandangkan. Tapi sama halnya dengan alkohol, maka manfaat yang di dapat jauh lebih kecil di banding kemudharatan yang di hasilkan. Karena segala sesuatu yang di larang Allah, pasti ada sebab dan manfaatnya. 

Kemudian ada yang berdalih, toh pacaran itu tidak merugikan orang lain. Tidak merugikan orang lain, namun hukum Allah jauh lebih baik untuk di ikuti ketimbang menurutkan hawa nafsu yang berakhir pada jurang kebinasaan. 

Kembali ke pernikahan, suatu kebaikan maka tak pantas jika di awali dengan keburukan. Allah tak akan ingkar janji, karena jodoh telah Allah tetapkan di Lauh Mahfuzh. Tinggal kita melakukan usaha yang baik, yang Allah ridhoi. Supaya tiap langkah kita, hanya berisi keridhoan Allah dan mendapat keberkahanNya. Aamiin. 

(hanya sebuah catatan hati guna pengingat diri dan saudara seimanku) 

Allahua’lam 


dr situslakalaka-2.blogspot.com