Tampilkan postingan dengan label histori islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label histori islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 September 2012

PROPAGANDA NILAI DAJJAL


 Sejak berabad silam hingga sekarang, kelompok-kelompok rahasia Luciferian terus bekerja siang dan malam untuk menyesatkan umat manusia dan menyukseskan agenda The New World Order-nya. Beberapa di antaranya adalah Freemasonry, Rosikrusian, Golden Dawn, Round Table, Bildeberger, Bohemian Groove, Libertarian (di Indonesia, dulu dikenal sebagai Mafia Berkeley, sekarang berganti nama menjadi Neo-Liberal. Juga termasuk Islam Liberal), Pluralisme, menyamakan agama, The Satanic Church, Theosofie (termasuk Kejawen), Zionis, dan sebagainya

Secret Society atau Organisasi Rahasia ada banyak macamnya di dunia ini sejak zaman dahulu, zaman para nabi Allah Swt, hingga sekarang. Ada Organisasi Rahasia yang bersifat internal dan sama sekali tidak mengganggu komunitas lain, namun ada juga yang sebaliknya, secara ekstrem dan radikal berupaya menjadikan orang-orang di luar kelompok mereka sebagai The His-Slaver atau Kaum Budak bagi mereka.

Mereka bergerak di berbagai bidang kehidupan. Tidak ada satu pun bidang kehidupan yang dilewatkan oleh mereka untuk mensukseskan misinya. Dikomandoi Amerika, Inggris, dan Israel membawa arah peradaban dunia hingga dunia dapat siap menerima kedatangan Ratu Adil ala mereka yaitu Dajjal.

Akhirnya semua nilai kehidupan didunia bernilai dajjal, serba bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Itulah fitnah sebelum fitnah Dajjal. Fitnah terhadap kebenaran hakiki, tetapi hakikatnya dosa dan maksiat bahkan Syirik. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW mengenai konspirasi dunia yang diarahkan kepada fitnah dajjal

Rasulullah SAW Bersabda:

Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan di hadapan Rasulullah saw. Kemudian beliau bersabda: Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini baik kecil ataupun besar- kecuali dalam rangka menyongsong fitnah Dajjal (HR Ahmad V/389)


Propaganda fitnah menyebar oleh imamnya Amerika, menghinggapi budaya kecintaan dunia dan takut mati, hingga menjual agama, kebobrokan moral semakin menjadi disegala lini, kebanyakan orang tidak lagi melihat Islamnya, akibat kebanyakan semua menyembah kepentingan keduniaan, banyaknya manusia gak ridho dgn Syariat Allah SWT. Nah hadist diatas mengisyaratkan bagi mereka yang termakan budaya dominasi nilai dajjal maka akan mudah menerima dajjal kelak.

Sihir menganggap enteng Dajjal 
Sebab itu, sebagai umat Islam kita wajib kembali kepada jalan para Nabi yakni memperjuangkan ketauhidan. Agar kita tidak tertipu oleh kelompok orang yang suka memutar-mutar lidah membaca ayat-ayat Alah Swt, namun sesungguhnya bekerja untuk melayani kepentingan kaum Liberal dan Lucferian dan mementingkan keduniaan yg berlebihan.

Rasulullah SAW Bersabda: Dajjal tidak akan muncul sehingga manusia melupakannya dan para Imam meninggalkan untuk mengingatnya di atas mimbar-mimbar (HR Ahmad 16073)

Islam telah memberi pedoman kepada kita jika dunia ini merupakan palagan, medan pertempuran, antara pasukan tauhid dengan pasukan musyrik, antara pasukan Allah Swt melawan pasukan Dajjal.

Sejak Nabi Adam Allaihi Salam diturunkan ke bumi, sejak itu pula iblis mengajak manusia kepada kesesatan dan menjauhi ketauhidan. Allah Swt menurunkan para nabi dan Rasul-Nya, juga memberi hidayah dan keistiqomahan pada mujahidin dan para penyeru ketauhidan, adalah semata-mata agar umat manusia tidak sedikit pun berpaling pada kaimat tauhid.

Sebaliknya, iblis dan para pengikutnya pun membuat berbagai manuver, manipulasi, dan menyebar dusta serta fitnah, agar manusia sebanyak mungkin bisa disesatkan jalannya

Rasulullah SAW Bersabda:
Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal. (HR Thabrani 1672)

Anas r a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, Tiada seorang nabi pun melainkan telah memperingatkan umatnya dari si buta sebelah dan pendusta. Ingatlah kami bahwa Dajal itu buta sebelah matanya dan Tuhan kamu tidak buta. Tertulis diantara mata Dajal itu kafir (HR Bukhari dan Muslim).

Muslihat Pemikiran Dajjal
Banyak orang terkecoh, dengan kekufuran nilai dajjal. Akibat dari kecil dipenuhi kehidupannya dengan nilai keduniaan yang dajjal mau. Hingga kebanyakan tidak memahami agama, orientasi bukan Allah, Motivasi bukan Allah sehingga kebanyakan terjebak dengan sistem dajjal. Menjadi budak dunia, kenyamanan, hingga tidak menyadari dirinya sebetulnya dibawa kepada penghambaan kepada Dajjal.

Rasulullah SAW Bersabda, Dan sesungguhnya Dajjal itu bermata satu; sebelah matanya tidak nampak. Di antara kedua matanya tertulis kafir yg terbaca oleh setiap mu'min yg mengerti baca-tulis ataupun tidak. (HR Ahmad)

Hadist diatas artinya tidak semua muslim itu mu'min, banyak yang tidak sadar pola pikirnya dipenuhi nilai dajjal.karena kehidupannya bersama media-media dan korban budaya dajjal

Targetnya membuat manusia tidak mampu membedakan hak dan bathil.
Kecuali mereka yang diberi ilmu dan tunduk dengan ilmu Allah SW
Surga dan Neraka Dajjal
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, Sukakah saya jelaskan kepadamu tentang Dajal yang belum dijelaskan oleh seorang nabi kepada kaumnya. Sesungguhnya Dajal itu buta sebelah matanya dan ia akan membawa berupa surga dan neraka, maka yang dikatakan surga itu sebenarnya adalah neraka (HR Bukhari dan Muslim)

Nilai dajjal adalah nilai terbalik, keharaman terbungkus oleh keindahan. Apa saja dianggap indah, lumrah padahal itu yang dajjal inginkan. Agar kita tidak bisa menjadi Mu'min yang sbenarnya. Demikianlah maksud hadist diatas dimana kemaksiatan dibungkus dengan kebaikan.

oleh: ustanz Yusuf Mansur

Rabu, 15 Agustus 2012

PM Turki Erdogan Ancam Akan Membalas Perlakuan Pemerintah Myanmar



Isak tangis memilukan yang mewarnai kunjungan istri PM Turki, Emine dan Menlu Ahmet Davutoglu beserta rombongan ke Arakan, Myanmar, Rabu (8/8/2012) menunjukkan derita luar biasa yang dialami Muslim Rohingya. 
Sebagai sesama Muslim dan saudara seiman, tampaknya ayat innamal mu’minuuna ikhwatun  (sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) begitu menghunjam dalam lubuk hati delegasi pemerintah Turki.
Begitu pula tuntunan Rasulullah saw perihal perumpamaan sesama mukmin dalam hal berkasih sayang, bagai satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh terluka, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan.
Begitulah saat delegasi pemerintah Turki mengunjungi saudara-saudaranya di Arakan, Myanmar. Mereka turut merasakan penderitaan saudara-saudara Muslim Myanmar.

Selain membawa bantuan logistik untuk 1500-an pengungsi selama 1 bulan, rombongan Emine juga berusaha “menghibur” dan membesarkan hati para pengungsi. Meski begitu, toh Emine sendiri tak kuasa untuk membendung air matanya. Saat Menlu Dovutoglu merangkul para pengungsi yang mengadu akan penderitaan mereka, Emine terus sesunggukan menangis
.
Seorang nenek dan seorang ibu saat berangkulan dengan Emine, makin membuatnya tersedu-sedu. Hati mukmin mana yang tega melihat saudara-saudaranya menderita? Hati Muslim mana yang lapang mendengar saudara-saudaranya, disiksa, diperkosa (bagi Muslimahnya), dibantai, dan diusir? Karenanya, jika Recep Tayyip Erdogan, sang Perdana Menteri, dengan keras dan tegas mengancam pemerintah Myanmar, itu sangat beralasan.
“Jika Myanmar tidak berhenti menghina (merendahkan) umat Islam, balasan kami adalah bertindak keras dan ganas!” seru Erdogan, seperti dikutip Canang Lahnie Online (12/8/2012).
Mustapa Mansor, aktivis dari Malaysia  yang ikut dalam tim kapal Mavi Marmara untuk membawa bantuan ke Gaza 2 tahun lalu, berkomentar:
“Inilah ungkapan yang kembali berulang saat Khilafah Islamiyah dulu ada di Turki, dimana kekuasaan menjaga wilayah kaum Muslimin. Bunyi (pernyataan ) di atas memang keras, tapi itu adalah sebuah komitmen persaudaraan. Sebuah  keputusan berani dari iman yang kokoh dan kejujuran untuk memikul beban risiko.


Emine, Menlu Davutoglu, dan rombongan bersama Muslim Rohingya di Arakan
Inilah penantian yang panjang dari umat ini terhadap pemimpinnya di mana pun.
Seharusnya dengan bukti kokoh seperti ini kita sudah mampu menilai dan mengenali siapakah yang paling layak untuk memimpin umat ini! Saudara pejuang sekalian, mari kita lupakan penampilan luaran seseorang dan lihatlah komitmennya terhadap umat ini!
Kenangan di (kapal) Mavi Marmara tidak ku lupakan…Erdogan saja yang berani berkata kepada penjajah Israel, “…Jika kamu tidak lepaskan para aktivis di kapal (Mavi Marmara, red) dalam waktu 24 jam…kami akan SERANG…!”
Tak hanya Mustapa Mansor seorang. Umat Islam di seantero jagad ini sangat mendamba kehadiran sosok pemimpin dunia (khalifah) yang melindungi kaum Muslimin di mana pun mereka berada.



judul Asli:

PM Turki Erdogan Peringatkan Pemerintah Myanmar Agar Berhenti Merendahkan Umat Islamzilzaal.blogspot.com


artikel terkait:

Pembantaian Muslim Rohingya; SUU KYI "PANEN" KECAMAN

Kamis, 09 Agustus 2012

Dokter-Dokter Muslim Legendaris Peletak Dasar Kedokteran Urology


Al-Razi, Ibnu al-Jazzar, al-Zahrawi serta Ibnu Sina merupakan dokter-dokter Muslim legendaris yang lahir di era kekhalifahan. Nama dan buah pikir yang mereka sumbangkan bagi kemajuan peradaban manusia telah diakui masyarakat dunia dari zaman ke zaman. Kontribusi para dokter Muslim itu sangat besar pengaruhnya bagi dunia kedokteran modern.
Salah satu sumbangan yang diberikan keempat dokter Muslim bagi dunia kedokteran modern adalah dalam bidang urologi. Urologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang khusus menangani bedah ginjal dan saluran kemih serta alat reproduksi.
Keempat dokter Muslim itu mengkaji dan membahas tentang urologi dalam buku kedokteran yang mereka tulis.
Prof Rabie E Abdel-Halim dalam tulisannya bertajuk Paediatric Urology 1000 Years Ago, mengungkapkan keberhasilan dunia kedokteran Muslim pada 1.000 tahun silam dalam bidang urologi.
Keempat kitab kedokteran yang mengupas masalah urologi itu adalah; Kitab al-Hawi fi al-Tibb karya Al-Razi; Risala fi Siyasat as-Sibian wa-Tadbirihim, karya Ibnu al-Jazzar; Kitab at-Tasrif li-man 'Ajiza 'an at-Ta 'lif, karya Al-Zahrawi; dan Al-Qanun fi al-Tibb, karya Ibnu Sina.
Lalu bagaimana al-Razi mengupas urologi dalam kitabnya yang fenomenal al-Hawi fi al-Tibb?
Campbell DC dalam karyanya Arabian Medicine and Its Influence on the Middle Ages, mengungkapkan, kitab al-Hawi yang terdiri dari 23 volume merupakan karya Al-Razi dokter Muslim yang hidup di Baghdad pada 841-926 M. Campbell menyebut al-Hawi sebagai sebuah ensiklopedia kedokteran dan operasi. "Dan ini merupakan kontribusi utama al-Razi pada bidang kedokteran," tutur Campbell.
Dalam kitab itu, al-Razi mengkritik dunia kedokteran yang berkembang di Yunani dengan hasil pengamatannya yang sangat akurat. Ia telah mampu mengembangkan sebuah mode analisis yang di masa depan membentuk dasar penelitian ilmiah. Sejarawan kedokteran, Margotta R Cumston, karyanya An Illustrated History of Medicine, menyatakan, dokter-dokter Muslim di era keemasan Islam memiliki sejumlah kelebihan, yakni lebih teliti dan hati-hati dalam menganalisis, memiliki wawasan yang luas mengenai kedokteran Yunani serta mampu menggali bahan-bahan yang penting dan membuang bahan yang tak berguna.
Menurut Husain dan al-Okbey dalam karyanya Tibb ar-Razi Dirasa wa tahlil li-kitab al-Hawi,/ tidak seperti pendahulunya, al-Razi mengikuti skema asli dari metode pengklasifikasian penyakit menurut organ yang terpengaruh.
"Dalam hal ini, ia menunjukkan kemampuan yang tertinggi sebagai seorang dokter dengan presentasi berbagai kondisi ilmu penyakit,'' imbuh Campbel dan Meyerhof M dalam karyanya berjudul Thirty-Three Clinical Observations by Rhazes (circa 900 AD).
Al-Razi biasanya mengkaji sebuah penyakit dari keluhan, kemudian dilakukan analisa awal dan akhir, menjelaskan tanda-tanda yang diperlukan untuk diagnosa. Dalam bidang urologi, al-Razi sudah mampu mendeteksi gejala yang berat pada penyakit pinggang. Ia sudah berhasil membedakan secara tepat antara ginjal dan batu ginjal atau pembengkakan.
"Perbedaan antara penyakit ini adalah dengan peradangan, bercampur dengan demam, kekerasan dan polyuria dengan frekuensi, dengan halangan, oliguria dan air seni yang jelas dan dengan batu, air seni yang baik atau tidak dan dengan sedimentasi yang mengandung pasir,'' papar al-Razi dalam kitabnya tersebut.
Desnos E dalam karyanya The History of Urology up to the Latter Half of the Nineteenth Century menjelaskan, meskipun Rufus of Ephesus telah membedakan antara vesical dan ginjal haematuria, al-Razi, juga yang memberi alasan physio-anatomis untuk perbedaan ini.
"Tiba-tiba haematuria dalam kaitan dengan pecahnya pembuluh ginjal seperti ini bukan kasus dalam kandung kemih. Ini tidak untuk pembuluh vesical memecahkan banyak darah yang datang ke situ terjadi pada ginjal. Dan ini adalah karena darah tidak disaring pada pembuluh dari kandung kemih, karena itu terjadi di pembuluh ginjal,'' ungkap al-Razi.
''Tetapi jumlah darah yang datang ke kandung kemih hanya cukup untuk gizi, sedangkan di ginjal, karena darah yang disaring di dalamnya dan kemudian pembuluh darah membesar dan banyak darah datang ke sana, jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk nutrisi. Juga pada pembuluh di kandung kemih tidak dekat dengan interior dan tidak didukung dengan pembuluh yang masuk ke dalam ginjal," jelas Al-Razi.
Al-Razi juga membedakan antara ginjal haematuria berkaitan dengan pemecahan pembuluh dan itu berkaitan dengan kongesti dengan peningkatan permeabilitas. Dalam bab tentang "menghentikan air seni," al-Razi berbeda pendapat dengan pendahulunya Celsus yang menulis di awal era Kristen, dan Paulus of Egina (625-690 M), keduanya hanya menyebutkan untuk penyimpanan air seni.
Al-Razi membedakan antara penyimpanan dan anuria. Ia menyebutkan bahwa air seni berhenti karena kekurangan ginjal dan tanda pemberhentian dari air seni ini. Selain itu, tidak ada rasa sakit berat di bagian belakang dan bukan di pinggang, saluran kencing dan kandung kemih.
Rasa sakit di daerah pinggang, tutur dia, terjadi akibat kekosongan pada kandung kemih. Tetapi jika ia menjadi batu, tanda-tanda dari batu akan muncul sebelum itu. Dan jika ia menjadi bengkak panas, dengan rasa sakit ada beberapa denyut. Dan jika ia menjadi penyakit di ginjal kemudian itu hanya kekakuan.
Menurut al-Razi, jika terjadi pembengkakan yang kuat, maka air seni tidak berhenti tiba-tiba, namun secara bertahap dan hanya dengan kekakuan. Dan jika akan pembekuan darah atau nanah, maka itu akan diawali oleh maag.
"Dan jika air seni dihentikan karena air seni petikan dari ginjal, kandung kemih akan kosong dan sakit di sepanjang saluran kencingnya itu karena ada penusukan dan penyulaman dan merupakan sakit yang berkelanjutan setelah itu, menggunakan kriteria sebelumnya dalam ginjal," papar Al-Razi.
Dengan gaya yang sama, ia membahas pengamatan klinis tentang penyimpanan. Menurut Husain dan Al-Okbey, al-Razi membedakan dengan presisi hebat antara ginjal vesical atau rasa sakit vesical dan sakit yang berkaitan dengan radang usus besar.
Dia juga unggul dalam membedakan antara batu dormant dan pergerakannya, yang menggambarkan lokasi yang tepat selanjutnya. Radbill menyatakan bahwa al-Razi adalah orang yang pertama yang menjelaskan spina bifida. Al-Razi merupakan dokter pertama yang menggunakan enemas sebagai persiapan untuk operasi.
Ia juga tercatat sebagai dokter pertama yang berhasil menghancurkan batu besar dengan menggunakan gapit batu. Selain itu, al-Razi juga ditabalkan sebagai dokter pertama yang pertama kali menjelaskan Meatotomi.
Kitab Rujukan Urologi Karya Dokter Muslim
Risala fi Siyasat as-Sibian wa-Tadbirihim
Kitab ini merupakan karya Ibnu al-Jazzar atau al-Gizar (895-980 M). Kitab Siyasat as-Sibian wa-Tadbirihim, terdiri dari 22 bab. Buku kedokteran ini dianggap sebagai lanjutan dari perbedaan pediatri dari penyakit lain. Dalam satu bab khusus, kitab karya al-Jazzar ini membahas batu yang terdapat pada kandung kemih, termasuk aetiology, kejadian jenis kelamin, gejala dan tanda-tanda.


At-Tasrif li-Man 'Ajiza 'an al-Ta'lif
Kitab al-Hawi fi al-TibbKitab karya al-Zahrawi (930-1013 M) itu disebut Abouleish E dalam karyanya Contributions of Islam to Medicine Kitab at-Tasrif li-man 'ajiza' 'an at-Ta'lif sebagai karya terbesarnya dalam bidang pengobatan. Buku kedokteran yang terdiri dari 30 volume itu lebih cocok disebut sebagai ensiklopedia kedokteran dan operasi.
"Al-Zahrawi menjelaskan semua pengetahuan operasi sepanjang hidupnya dalam kitab sebanyak 30 jilid mengenai ensiklopedia kedokteran yang besar," imbuh Spink MS dalam Albucasis on Surgery and Instruments.
Sejumlah sejarawan telah menjelaskan jilid ini sebagai buku kedokteran pertama yang pertama memberikan penjelasan pengobatan lengkap yang rasional disertai ilustrasi, dan berbagai prosedur operasi dan instrumen.
Pada bidang urologi, al-Zahrawi telah menemukan sebuah peralatan pengeboran untuk sebuah lubang pada batu urethal yang berbentuk seperti bor bernama Al-Michaab. Alat ini terbuat dari baja, dapat dianggap sebagai dasar lithotripsy. Al-Zahrawi juga merancang gunting khusus yang disebut Kalalib , yang digunakan menghancurkan vesical batu besar melalui perineal cystotomy.
Al-Qanun fi al-Tibb
Cumston menjelaskan Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037 M) dalam bidang urologi pada dasarnya mengikuti metode atau analisis al-Razi. Menurut Desnos, klasifikasi penyakit ginjal dan kandung kemih telah dijelaskan Ibnu Sina dalam Al-Qanun.
Gejala Batu Ginjal
Menurut Ibnu Sina, seseorang yang menderita batu ginjal akan merasakan rasa sakit. Rasa sakit akan tambah memburuk ketika batu mulai terbentuk atau saat batu itu turun menuju ke kandung kemih. Penderita batu ginjal, kata kedua dokter Muslim legendaris itu, akan merasakan betapa beratnya panggul mereka.
Ibnu Sina telah mampu membuat perbedaan yang jelas antara batu ginjal dan batu kandung kemih. Para dokter Muslim di zaman memang terbilang fenomenal. Saat dunia barat dikungkung kegelapan, mereka telah menguasai perbedaan beragam penyakit. Mereka telah mampu menjelaskan perbedaan diagnosis antara sakit usus dan sakit ginjal. Penjelasan yang dibuat seribu tahun lalu itu ternyata tak berbeda dengan apa yang diajarkan di sekolah kedokteran saat ini. 

Sumber: http://www.swaramuslim.com

Kamis, 02 Agustus 2012

Ilmuwan Muslim Di Balik Penemuan Angka Nol


Jangan sepelekan angka nol. Bayangkan, apa jadinya jika deret angka hanya ada sembilan angka (1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9) saja tanpa nol? Tentu akan muncul permasalahan- permasalahan, misalnya, dari mana muncul angka puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, atau puluhan juta?

Nah, dengan adanya nol, semua permasalahan itu pun terpe cahkan. Berkat angka nol, deret hitung menjadi semakin luas dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Selain fungsinya yang penting, angka nol juga mempunyai sejarah panjang. Dari manakah sebenarnya angka ini berasal? Dan, siapa pula penemunya? Mungkin banyak yang mengira, ilmuwan Eropalah penemunya. Sejatinya, angka nol justru ditemukan oleh ilmuwan Muslim. Dia adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Ia lahir di Khawarizmi (sekarang Khiva), Uzbekistan, pada 194 H/780 M.

Tak banyak informasi yang menjelaskan secara mendalam mengenai sosok dan riwayat hidup Al-Khawarizmi. Tetapi, sejarah singkatnya terdapat dalam kitab Al-Fihrist Ibn an-Nadim, yang juga menjelaskan karya-karya tulisnya.

Di situ disebutkan, Al-Khawarizmi menekuni hampir seluruh pekerjaannya antara tahun 813 hing ga 833. Setelah Islam masuk ke Persia dan Baghdad menjadi pusat ilmu serta perdagangan, banyak pedagang dan ilmuwan dari Cina dan India mendatangi kota tersebut, termasuk Al-Khawarizmi.

Di sana, ia menjadi bagian dari para ilmuwan yang bekerja di Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), sebuah lembaga penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Ma’mun Ar-Rasyid, khalifah ketujuh Dinasti Abbasiyah. Oleh guru besar studi Islam Temple University AS, Mahmoud Ayoub, Bayt al-Hikmah disebut sebagai institusi pendidikan tinggi pertama di dunia Islam dan juga Barat. Di lembaga ini, Al- Khawarizmi belajar ilmu alam dan matematika, juga terjemahan manuskrip Sanskerta dan Yunani.
Dulu, sebelum Al-Khawarizmi memperkenalkan angka nol, para ilmuwan menggunakan semacam daftar yang membedakan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterus nya. Daftar yang dikenal sebagai abakus itu berfungsi menjaga setiap angka dalam bilangan agar tidak saling tertukar dari tempat atau posisi mereka dalam hitungan.
AbakusSistem tersebut berlaku hingga abad ke-12 M, ketika para ilmuwan Barat mulai memilih menggunakan raqm al-binji (angka Arab) dalam sistem bilangan mereka. Raqm albinji menggunakan angka “nol” yang diadopsi dari angka India, meng hadir kan sistem penomoran desimal yang belum pernah digunakan sebelumnya.

Nah, lewat buku pertamanya, Al- Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al- Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan), Al-Kha warizmi memperkenalkan ang ka nol yang dalam bahasa Arab yang disebut shifr. Karya monumental itu juga membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat.

Buku itu diterjemahkan di London pada 1831 oleh matematikawan Inggris, Fredrick Rosen, dan selanjutnya diedit dalam bahasa Arab pada 1939 oleh dua matematikawan Mesir, Ali Mustafa Musyarrafa dan Muhammad Mursi Ahmad. Sebelumnya, pa da abad 12, karya ter sebut juga diter- jemahkan oleh se orang mate matikawan asal Chester, Inggris, Robert (Latin: Robertus Castrensis), dengan judul Liber Algebras et Al-mucabola.

Masih pada abad yang sama, buku berbahasa Latin itu kemudian diedit oleh matematikawan asal New York, LC Karpinski. Versi ke duanya, De Jebra et Almucabola, ditulis oleh Gerard da Cremona (1114–1187), matematikawan dan penerjemah asal Italia. Buku yang ditulis Gerard itu disebut-sebut lebih baik dan bahkan mengungguli buku Fredrick Rozen.

Dengan demikian, meski telah diperkenalkan pada pertengahan pertama abad ke-9, angka nol baru dikenal dan digunakan oleh kalangan ilmuwan Barat dua setengah abad kemudian. Menyusul diperkenalkannya angka nol oleh Al- Khawarizmi maka untuk pertama kalinya nol digunakan sebagai pemegang tempat dalam notasi berbasis posisi. Dunia perlu berterima kasih pada ilmuwan yang satu ini karena dengan angka nol yang diperkenalkannya, bilangan 2012 dan 212 dapat dibedakan.

Pada abad ke-12, matematika wan Muslim asal Spanyol, Ibrahim ibn Meir ibn Ezra, menulis tiga risalah mengenai angka yang membawa simbol- simbol India dan pecahan desimal ke Eropa hingga men dapatkan perhatian dari sejumlah ilmuwan di sana. Risalah ber judul The Book of The Number itu menjelaskan tentang sistem desimal untuk bilangan bulat dengan nilai tempat dari kiri ke kanan. Ibn Ezra menggunakan nol dengan sebutan galgal (yang berarti roda atau lingkaran).

Selanjutnya, pada 1247, mate matikawan Cina, Ch’in Chiu-Shao, menulis Mathematical Treaties in Nine Sections yang menggunakan simbol O untuk nol. Dan pada 1303, Zhu Shijie menggunakan simbol yang sama untuk nol dalam karya nya Jade mirror of the Four Elements. Sistem angka tersebut selanjutnya juga berkembang di Eropa.

Al-Khawarizmi, ilmuwan yang berada di balik penemuan besar ma te matika abad ke-9 itu, wafat di Baghdad pada sekitar 850 M




http://situs-lakalaka.blogspot.com

Selasa, 31 Juli 2012

Meluruskan Istilah "Perbedaan Adalah Rahmat"


Pertanyaan : Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu menjawab :

Perbedaan (ikhtilaf) ada tiga macam:

1. Ikhtilaf al-afham (perbedaan pemahaman)
Para shababat pernah mengalami perbedaan yang seperti ini. Bahkan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu tetap makan (sahur) hingga jelas baginya perbedaan antara benang yang putih dengan benang yang hitam. Dia menaruh di bawah bantalnya, benang putih dan benang hitam, dan tetap makan (sahur), berdasarkan apa yang dia pahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ


“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat:

مِنَ الْفَجْرِ

“Yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ikhtilaful afham insya Allah tidak mengapa. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ وِسَادَكَ لَعَرِيضٌ

“Sesungguhnya bantalmu lebar.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan kepadanya: “Ulangilah (puasamu) pada hari-hari yang engkau makan (sahur setelah lewatnya fajar).”

2. Ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan/ keanekaragaman tata cara)
Yakni, diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada beberapa macam cara/ bacaan tasyahud dalam shalat, juga ada beberapa macam bacaan shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ikhtilaf jenis ini, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil (bodoh). Dan keadaannya memang seperti yang beliau rahimahullahu katakan, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil.

3. Ikhtilaf tadhad (perbedaan kontradiktif)
Apa itu ikhtilaf tadhad? Yaitu seseorang menyelisihi suatu dalil yang jelas, tanpa alasan. Inilah yang diingkari oleh para salaf, yaitu menyelisihi dalil yang shahih dan jelas tanpa alasan.

Adapun hadits yang menjadi sandaran mereka yaitu:

اخْتِلَافُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ

“Perbedaan umatku adalah rahmat.”

Ini adalah hadits yang tidak ada sanad dan matannya. Munqathi’ (terputus sanadnya) kata As-Suyuthi rahimahullahu dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir. Beliau rahimahullahu juga berkata: “Mungkin saja ada sanadnya, yang tidak kita ketahui.”

Namun hal ini akan berakibat tersia-siakannya sebagian syariat, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu.

Adapun tentang matan hadits ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ. إِلاَّ مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang dirahmati Rabbmu.” (QS. Hud: 118-119)

Mafhum dari ayat yang mulia ini, bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah berselisih. Sedangkan orang-orang yang tidak dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berselisih.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

“Biarkanlah aku dan apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian adalah banyaknya mereka bertanya, dan banyaknya penyelisihan terhadap nabi-nabi mereka.”

Ini merupakan dalil bahwa ikhtilaf (perselisihan/perbedaan) adalah kebinasaan, bukan rahmat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, di mana Ibnu Mas’ud dan salah seorang temannya berselisih tentang qira`ah (bacaan Al-Qur`an):

لَا تَخْتَلِفُوا كَمَا اخْتَلَفَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَهْلِكُوا كَمَا هَلَكُوا

“Janganlah kalian berselisih sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berselisih, sehingga kalian binasa sebagaimana mereka telah binasa.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu:

اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Luruskan (shaf kalian), dan janganlah berselisih, sehingga hati-hati kalian akan berselisih.”

Dalam sebuah riwayat:

لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ وُجُوهُكُمْ

“Janganlah kalian berselisih, sehingga akan berselisihlah wajah-wajah kalian.”

Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, disebutkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para shahabatnya berpencar. Mereka singgah di sebuah lembah, lalu setiap kelompok pergi ke tempat masing-masing. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ تَفَرُّقَكُمْ هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ

“Sesungguhnya bercerai-berainya kalian ini adalah dari setan.”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berkumpul. Bila hal ini (terjadi) dalam tercerai-berainya fisik, maka apa sangkaanmu terhadap tercerai-berainya hati? Hadits-hadits tentang hal ini banyak sekali. Saya telah mengumpulkan sebagiannya dalam tulisan pendek yang berjudul Nashihati li Ahlus Sunnah dan telah tercantum dalam Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna.

Yang saya inginkan dari penjelasan ini, bahwa ikhtilaf termasuk kebinasaan. Hanya saja ikhtilaf yang mana? Yaitu ikhtilaf tadhad yang dahulu diingkari oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat. Ikhtilaf tadhad (misalnya):

- Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Salamah ibnul Akwa’, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang makan dengan tangan kirinya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Makanlah dengan tangan kanan.” Orang itu menjawab: “Aku tidak bisa.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi: “Engkau tidak akan bisa.” Maka orang itu tidak bisa mengangkat tangannya ke mulutnya. Tidak ada yang menghalanginya kecuali kesombongan.

- Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menjenguk seorang lelaki tua yang sedang sakit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Thahur (Sakit ini sebagai penyuci).” Namun lelaki tua itu justru berkata: “Demam yang hebat, menimpa seorang lelaki tua, yang akan mengantarnya ke kubur.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: “Kalau begitu, benar.”

Akhirnya dia terhalangi dari barakah doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

- Juga kisah seorang laki-laki yang telah kita sebutkan. Yaitu ketika ada dua orang wanita berkelahi, lalu salah seorang memukul perut yang lain, sehingga gugurlah janinnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan agar wanita yang memukul membayar diyat berupa seorang budak. Maka datanglah Haml bin Malik An-Nabighah dan berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana kami membayar diyat (atas kematian seseorang) yang tidak makan dan tidak minum, tidak bicara tidak pula menangis –atau kalimat yang semakna dengan ini–, yang seperti ini tidak dituntut diyatnya.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, karena lelaki itu hendak membatalkan hukum Allah dengan sajaknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ

“Orang ini termasuk teman-teman para dukun.”

Yaitu karena sajaknya.

Adapun pengingkaran para ulama terhadap orang yang menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akalnya, merupakan perkara yang kesempatan ini tidaklah cukup untuk menyebutkannya. Saya telah menyebutkan sebagiannya dalam akhir risalah Syar’iyyatu Ash-Shalati bin Ni’al, juga dalam Rudud Ahlil ‘Ilmi ‘ala Ath-Tha’inin fi Hadits As-Sihr.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Diambil dari Ijabatus Sa`il, hal. 518-521]



Sumber : http://www.radiosalafy.com


Read more: http://abuayaz.blogspot.com/2011/03/perbedaan-adalah-rahmat.html#ixzz227pm93xZ

Senin, 30 Juli 2012

Rilis Resmi Imarah Islamiyah Afghanistan Seputar Tragedi Rohingya


Jum’at, 1 Ramadhan 1433 H/ 20 juli 2012 M 
Imarah Islam Afghanistan

 Mujahidin Imarah Islamiyah Afghanistan, peduli nasib kaum muslimin

 Rezim militer dan Budha Myanmar, masih haus dengan darah umat islam. Memasuki bulan Ramadhan, Myanmar tidak mengurangi tekanan dan kekejamannya atas umat islam.

Berikut rilis terbaru dari mujahidin Imarah Islamiyah Afghanistan.

Mujahidin Imarah Islamiyah Afghanistan

Kaum muslimin dari Burma/Myanmar telah menghadapi penindasan dan kebiadaban selama dua bulan terakhir. Kekejaman ini tak pernah disaksikan sebelumnya dalam sejarah umat manusia.

Tanpa ampun, mereka membakar anak-anak, wanita dan pria seperti memanggang domba di atas api. Tidak ada manusia yang ingin diperlakukan seperti itu, namun sayangnya muslim di Myanmar telah mengalaminya. 

 Muslim Rohingya, menanti bantuan saudara seiman

Tidak hanya itu, mereka juga diusir dari tanah mereka, dikeluarkan dari rumah mereka, kekayaan mereka dirampas dan kehormatan mereka dijarah sementara seluruh dunia menutup mata untuk penderitaan mereka.

Imarah Islamiyah Afghanistan, selain mempertimbangkan kejahatan ini, mencoba untuk mengingat kembali bekas luka hitam pada sejarah umat manusia. Mendesak pemerintah Burma/Myanmar  untuk segera meletakkan senjata dan berhenti berbuat kejam dan biadab. Mereka harus menyadari bahwa ini bukan hanya kejahatan terhadap kaum Muslim di Burma/Myanmar tetapi terhadap semua umat manusia dan terutama kejahatan yang tak termaafkan terhadap seluruh dunia Islam.

 Muslim Rohingya, jadi sorotan umat islam

Sementara itu, Imarah Islamiyah Afghanistan menyerukan masyarakat internasional, khususnya semua organisasi HAM dan semua media internasional terutama Al-Jazeera untuk memenuhi kewajiban moral dan kemanusiaan dengan mengekspos barbarisme ini dan menginformasikan kepada masyarakat tentang realitas tersebut. Kemudian, seluruh kaum muslimin harus memenuhi kewajiban mereka melawan kekejaman dan teror yang tidak proporsional ini.


Afghanistan (lasdipo.com)

Rabu, 25 Juli 2012

Firaun Firaun Dalam Sejarah Mesir Kuno


Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. (Al-Baqarah : 50).

Fir'aun (Pharaoh) merupakan gelar yang diberikan kepada raja-raja Mesir kuno. Asal usuI istilah Fir'aun sebetulnya merujuk kepada nama istana tempat berdiamnya seorang raja, namun lama – kelamaan digunakan sebagai gelar raja-raja Mesir kuno.

Banyak Fir'aun yang telah memimpin peradaban yang terkenal dengan peninggalan Piramida Khufu-nya itu, mulai dari Raja Menes -sekitar 3000 SM, pendiri kerajaan, pemersatu Mesir hulu dan hilir – hingga Mesir jatuh dibawah kepemimpinan raja-raja dari Persia.

Sejauh ini telah banyak studi yang dilakukan untuk mengidentifikasi siapakah Fir'aun yang sedang berkuasa saat peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel dari tanah Mesir. Berikut beberapa kandidatnya :

Ahmose I (1550 SM – 1525 SM)
Thutmose I (1506 SM – 1493 SM)
Thutmose II (1494 SM – 1479 SM)
Thutmose III (1479 SM – 1425 SM)
Amenhotep II (1427 SM – 1401 SM)
Amenhotep IV(1352 SM – 1336 SM)
Horemheb (sekitar 1319 SM – 1292 SM)
Ramesses I (sekitar 1292 SM – 1290 SM)
Seti I (sekitar 1290 SM – 1279 SM)
Ramesses II (1279 SM – 1213 SM)
Merneptah (1213 SM – 1203 SM)
Amenmesse (1203 SM – 1199 SM)
Setnakhte (1190 SM – 1186 SM)

Dari daftar beberapa Fir'aun diatas, nama Ramesses II selama ini memang kerap diidentifikasikan sebagai Fir'aun yang sedang berkuasa pada saat itu. Ia merupakan sosok Fir'aun terbesar dan terkuat yang pernah memimpin peradaban Mesir kuno. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir'aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun lamanya.

Sifatnya yang kadang tirani terhadap masyarakat kelas bawah, membuat sejarawan banyak yang berspekulasi dengan menyebutkan ia sebagai raja yang memperbudak Bani Israel. Walaupun demikian, tidak ada bukti arkeologi yang benar-benar memperkuat dugaan tersebut. Selain itu periode masa hidupnya juga dikatakan tidak cocok dengan kemungkinan terjadinya peristiwa keluaran.

Kemudian menilik ke Raja Merneptah – putra Ramesses II – yang berkuasa setelah Ramesses II mangkat, ia juga bukan merupakan Fir'aun yang dimaksud mengingat pada masa pemerintahannya, Merneptah pernah mengatakan bahwa Bangsa Israel telah tiba di tanah Kana'an. Itu artinya, peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel telah lama terjadi sebelum ia berkuasa.

Lalu bagaimana dengan Seti I, ayah dari Ramesses II ? Bagaimanapun juga, ahli sejarah Alkitab mengatakan peristiwa keluaran ini terjadi disekitar 1400 SM, itu jauh dari masa pemerintahan Seti I.
Beberapa Sejarawan yang menggunakan metode penelitian dengan cara mencocokkan kronologi di dalam catatan-catatan peninggalan Mesir Kuno dengan perkiraan waktu keluaran pada kitab suci menyimpulkan, kemungkinan peristiwa itu terjadi saat Mesir kuno dibawah pimpinan Raja-raja Dinasti ke-18.

Dinasti ke-18 mencakup beberapa raja, yakni Thutmose I (1506 SM – 1493 SM), Thutmose II (1494 SM – 1479 SM), diselingi oleh kepempinan Fir'aun wanita yaitu Ratu Hatsepsut (1479 SM -1458 SM) kemudian Thutmose III (1479 SM – 1425 SM).

Walaupun Al-Quran dan Alkitab sudah cukup jelas mengisahkan kronologi peristiwa itu terjadi, namun masih terdapat teka-teki mengenai siapa sebenarnya Fir'aun yang memimpin pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel? Al-Quran dan Alkitab tidak menyebutkan secara mendetail siapakah Fir'aun yang dimaksud. Ya disini kita akan dibawa dengan sebuah pertanyaan. Lalu Siapakah Firaun yang di tenggelamkan di laut merah??






http://situs-lakalaka.blogspot.com

Tarawih Tidak Harus BErjamaah

 Tarawih merupakan shalat malam (qiyamul lail) di bulan Ramadhan. Tarawih berasal dari kata raahah yang berarti bersantai setelah empat rakaat.

Artinya shalat ini dapat dikerjakan tidak sekaligus dalam satu rangkaian, namun dapat disela-sela dengan kegiatan lain di luar shalat setelah menyelesaikan empat rakaat, empat rakaat.

Rasulullah SAW tercatat tiga kali melakukan shalat tarawih di masjid yang diikuti oleh para sahabat pada waktu lewat tengah malam. Khawatir shalat tarawih diwajibkan karena makin banyaknya sahabat yang turut berjamaah, pada malam ketiga Rasulullah SAW lalu menarik diri dari shalat tarawih berjamaah dan melakukannya sendiri di rumah.



Pada saat selesai shalat Subuh beberapa hari kemudian beliau menyampaikan konfirmasi, “Sesungguhnya aku tidak khawatir atas yang kalian lakukan pada malam-malam lalu, aku hanya takut jika kegiatan itu (tarawih) diwajibkan yang menyebabkan kalian tidak mampu melakukannya.” (HR. Bukhari).

Pada masa kekhalifahannya, Umar bin Khathab memerintahkan shalat tarawih berjamaah dengan imam Ubay bin Ka’ab sebanyak dua puluh tiga rakaat dan bacaan sekitar 200 ayat, setelah sekian lama para sahabat shalat sendiri-sendiri.

Kegiatan tersebut didasari oleh kemaslahatan bersama akan persatuan dan kesatuan kaum Muslim. Menyaksikan indahnya tarawih berjamaah lewat tengah malam, Umar bin Khathab berkata, "Ini adalah bid'ah yang paling nikmat."

Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, kegiatan shalat tarawih ditambah hingga 33 rakaat dengan alasan perbedaan kualitas ibadah kita dengan Rasulullah SAW. Namun, jumlah rakaat tarawih yang terakhir ini hanya masyhur pada zaman itu dan tidak popular hingga zaman kita saat ini.

Perbedaan jumlah rakaat tarawih disebabkan oleh tidak adanya batasan jumlah rakaat saat Rasulullah SAW melakukannya dalam tiga malam itu. Imam As-Syuyuthi menukil pernyataan Imam Al Taj As-Subhi berkata, “Tidak adanya batasan rakaat karena tarawih adalah shalat sunah. Yang mau sedikit (rakaatnya) silakan, yang mau banyak juga dipersilahkan.”

Di banyak negara, kita menjumpai kaum Muslimin melaksanakan shalat tarawih dengan delapan atau dua puluh rakaat. Di banyak masjid Maroko, shalat tarawih dua puluh rakaat dipecah menjadi dua bagian, yaitu setelah shalat Isya dengan delapan rakaat dan satu jam sebelum Subuh dengan dua belas rakaat plus tiga witir.

Di Indonesia, sekitar dua puluh tahun lalu, rakaat tarawih dapat dipakai untuk mengidentifikasi seseorang apakah dia NU atau Muhammadiyah. Jika shalat tarawihnya dua puluh rakaat, kita akan menyatakan bahwa dia NU. Sebaliknya jika delapan rakaat, dengan mudah kita akan mengatakan dia Muhammadiyah.

Namun saat ini, sejalan dengan pendalaman keagamaan masyarakat dan kemudahan mendapatkan akses informasi keagamaan, ukuran tersebut tidak lagi dapat dipakai untuk menentukan ke-NU-an maupun ke-Muhammadiyah-an.

Pasalnya, sudah banyak orang NU yang berpikir simpel, praktis dan ekonomis sehingga memilih delapan rakaat tarawih plus witir. Sebaliknya, banyak orang Muhammadiyah yang melebihi pemikiran ke-Muammadiyah-annya yang tidak hanya mencukupkan diri dengan delapan rakaat, melainkan dua puluh rakaat.

Tata Cara Shalat Tarawih 23 Rakaat

Tarawih adalah shalat sunah yang dapat dilakukan dengan banyak rakaat dan banyak jeda istirahat. Jangankan dipecah menjadi dua kali, lebih dari dua pun tidak masalah asalkan menambah persaudaraan, kebersamaan, kerukunan dan persatuan umat. Maka sesungguhnya tidak ada ruang bagi kita untuk mempersoalkan rakaat shalat tarawih karena ia shalat sunah, apalagi jika dilakukan dengan visi membangun persatuan umat.









http://zilzaal.blogspot.com

Selasa, 24 Juli 2012

yesus muslim...?


saya ingin mengatakan bahwa Yesus tidak mungkin kristen,kenapa? 
sebab kristen artinya penyembah kristus,kalau yesus agamanya Kristen berarti yesus menyembah dirinya  

1.Yesus mengajarkan Syahadat 
Yoh 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. 

bandingkan dengan bunyi syahadat 
"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah." 

2.yesus berpuasa 
Matius 4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. 

umat islam pun lapar setelah berpuasa sebulan 

3.yesus naik haji 
16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 

inilah kesalahan gereja yaitu menerjemahkan nama tempat.di dalam bible berbahasa yunani batu karang itu disebut Petra 
di manakah Petra itu? 

berikut adalah Arah di zaman Yesus: 
Utara:Antioch 
Timur:Babilonia 
Barat:Romawi 
selatan:Alexandria 

Petra berada di tenggara Palestin.di mana itu?Arabia 
Belum sempat Yesus melaksanakan niatnya ini keburu dikejar kejar orang Yahudi untuk disalib karena itu dia mengatakan: 
Yoh 16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. 

yesus mengataka Masih banyak hal yang harus dikatakan 
Barulah setelah turunnya Nabi Muhammad cita cita Yesus itu terealisasi 

lihat lagi ayat yg tadi 
"alam maut tidak akan menguasainya". 
ini gambaran akan kota Makkah yang disebut tanah Haram.maksudnya pertumpahan darah sangat dilarang di daerah ini.



http://forum.dudung.net