Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

PM Turki Erdogan Ancam Akan Membalas Perlakuan Pemerintah Myanmar



Isak tangis memilukan yang mewarnai kunjungan istri PM Turki, Emine dan Menlu Ahmet Davutoglu beserta rombongan ke Arakan, Myanmar, Rabu (8/8/2012) menunjukkan derita luar biasa yang dialami Muslim Rohingya. 
Sebagai sesama Muslim dan saudara seiman, tampaknya ayat innamal mu’minuuna ikhwatun  (sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) begitu menghunjam dalam lubuk hati delegasi pemerintah Turki.
Begitu pula tuntunan Rasulullah saw perihal perumpamaan sesama mukmin dalam hal berkasih sayang, bagai satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh terluka, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan.
Begitulah saat delegasi pemerintah Turki mengunjungi saudara-saudaranya di Arakan, Myanmar. Mereka turut merasakan penderitaan saudara-saudara Muslim Myanmar.

Selain membawa bantuan logistik untuk 1500-an pengungsi selama 1 bulan, rombongan Emine juga berusaha “menghibur” dan membesarkan hati para pengungsi. Meski begitu, toh Emine sendiri tak kuasa untuk membendung air matanya. Saat Menlu Dovutoglu merangkul para pengungsi yang mengadu akan penderitaan mereka, Emine terus sesunggukan menangis
.
Seorang nenek dan seorang ibu saat berangkulan dengan Emine, makin membuatnya tersedu-sedu. Hati mukmin mana yang tega melihat saudara-saudaranya menderita? Hati Muslim mana yang lapang mendengar saudara-saudaranya, disiksa, diperkosa (bagi Muslimahnya), dibantai, dan diusir? Karenanya, jika Recep Tayyip Erdogan, sang Perdana Menteri, dengan keras dan tegas mengancam pemerintah Myanmar, itu sangat beralasan.
“Jika Myanmar tidak berhenti menghina (merendahkan) umat Islam, balasan kami adalah bertindak keras dan ganas!” seru Erdogan, seperti dikutip Canang Lahnie Online (12/8/2012).
Mustapa Mansor, aktivis dari Malaysia  yang ikut dalam tim kapal Mavi Marmara untuk membawa bantuan ke Gaza 2 tahun lalu, berkomentar:
“Inilah ungkapan yang kembali berulang saat Khilafah Islamiyah dulu ada di Turki, dimana kekuasaan menjaga wilayah kaum Muslimin. Bunyi (pernyataan ) di atas memang keras, tapi itu adalah sebuah komitmen persaudaraan. Sebuah  keputusan berani dari iman yang kokoh dan kejujuran untuk memikul beban risiko.


Emine, Menlu Davutoglu, dan rombongan bersama Muslim Rohingya di Arakan
Inilah penantian yang panjang dari umat ini terhadap pemimpinnya di mana pun.
Seharusnya dengan bukti kokoh seperti ini kita sudah mampu menilai dan mengenali siapakah yang paling layak untuk memimpin umat ini! Saudara pejuang sekalian, mari kita lupakan penampilan luaran seseorang dan lihatlah komitmennya terhadap umat ini!
Kenangan di (kapal) Mavi Marmara tidak ku lupakan…Erdogan saja yang berani berkata kepada penjajah Israel, “…Jika kamu tidak lepaskan para aktivis di kapal (Mavi Marmara, red) dalam waktu 24 jam…kami akan SERANG…!”
Tak hanya Mustapa Mansor seorang. Umat Islam di seantero jagad ini sangat mendamba kehadiran sosok pemimpin dunia (khalifah) yang melindungi kaum Muslimin di mana pun mereka berada.



judul Asli:

PM Turki Erdogan Peringatkan Pemerintah Myanmar Agar Berhenti Merendahkan Umat Islamzilzaal.blogspot.com


artikel terkait:

Pembantaian Muslim Rohingya; SUU KYI "PANEN" KECAMAN

Senin, 30 Juli 2012

PIARA: Kita Lebih Sibuk Urus Ariel Daripada Rohingya



 
Etnis Muslim Rohingnya tetap taat beragama
Etnis Muslim Rohingnya, Arakan masih mengharapkan uluran tangan negara lain, khususnya negara-negara Muslim seperti Indonesia juga menekan rezim junta militer Myanmar (Burma).
Pernyataan ini disampaikan Dr Heru Susetyo dari Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA) dalam diskusi publik bertema, “Muslim Rohingya: Lukamu adalah Luka Kami Semua”, di UI, di Universitas Indonesia Senin kemarin.
Heru juga menyampaikan bahwa Muslim Arakan ingin hidup bebas menjalankan agamanya, melanjutkan pendidikan sampai dipermudah melakukan pernikahan.
Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya bisa berbuat lebih dari Muslim Malaysia yang lebih konkrit begerak meski hanya berpenduduk 16 juta jiwa. Tapi faktanya tidaklah demikian, ujar Heru.
“Kita lebih sibuk mengurus Ariel daripada Muslim Rohingya,” ujar pakar hukum ini.
Lebih jauh,Heru menyampaikan fakta duka Muslim etnis Rohingnya tersebut. Meski Myanmar merdeka pada tahun 1948, sejatinya Muslim Arakan belum sempat merasakan manisnya kebebasan. Ketika rezim Militer berkuasa tahun 1988, intensitas penindasan terus meningkat terhadap mereka..
“Jadi duka Arakan sudah berlangsung lama, tapi dulu belum ada media sosial,” demikian dikatakan.
Heru menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi Myanmar pada tahun 2009. Menurutnya, Myanmar adalah negara yang memprihatinkan. Padahal, Myanmar adalah negara dengan sumber daya alam terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia.
“Tapi rakyat mereka tetap miskin, yang kaya rezim militer,” paparnya yang menjelaskan Arakan adalah propinsi paling miskin di Myanmar.
Selama ini berbagai metode juga dilakukan pemerintah Myanmar agar orang Rohingya keluar dari Arakan. Mulai dari pemerkosaan struktural, pembatasan pernikahan, hingga membatasi kehamilan. Namun Muslim Rohingya tidak bisa berbuat banyak.
“Siapa yang mau melawan, karena mereka minoritas,” ceritanya.
Meski demikian masyarakat diminta untuk tidak memandang sebelah mata pengungsi muslim Arakan. Walau hidup dalam penindasan, mereka memiliki semangat Islam luar biasa.
“Saya pernah melihat tempat pengungsian mereka di Thailand, di sana anak-anak mereka belajar mengaji,” kenang mahasiswa program Doktor Chulalongkorn University, Bangkok ini.*


Selasa, 24 Juli 2012 
Hidayatullah.com
oleh: Cholis Akbar

Rabu, 25 Juli 2012

Lucu, Sering Dimintai Petuah Jelang UN, Ponari Malah Tak Lulus SD


Ini adalah peringatan untuk orang2 yang masih percaya pada hal2 yang berbau klenik dan masih percaya pada dukun. Ponari yang digiring menjadi ‘dukun cilik’ itu tidak lulus ujian nasional (UN) Sekolah Dasar. Setelah namanya kondang sebagai pemilik “batu” yang dianggap ajaib, Ponari memang sering bolos dan malas belajar. Dia juga lebih sering bermain-main daripada pergi ke sekolah.

Ironisnya, banyak warga yang datang untuk meminta bantuan Ponari agar lulus Ujian Nasional. Setiap tahunnya, menjelang UN puluhan orang mendatangi rumah Ponari di Dusun Kedungsari Desa Balongsari Kecamatan Megaluh, Jombang, ini. Mereka yakin pertolongan Ponari dan batu bertuahnya akan membantu mereka lulus UN. Para pelajar ini datang ditemani orang tuanya.

Mereka meminta agar pensil 2B dan penghapus, yang akan digunakan untuk mengisi lembar jawaban UN, dicelupkan dalam air yang sudah diberi tuah batu petir yang dimiliki Ponari. Metode pengobatan Ponari memang mencelupkan batu ke dalam air, kemudian air itu diminumkan atau dibasuh pada pasien.

Walau sering dimintai bantuan untuk lulus ujian, nyatanya Ponari malah tidak lulus SD. Batu bertuah yang dimilikinya gagal menolong Ponari untuk lulus SD. Ya, terang saja, batu mana bisa menolong. Astaghfirullah…

Saat di puncak kejayaannya tahun 2009, Ponari malah sempat bolos satu bulan. Ketika itu Ponari masih duduk di kelas III SDN Balonsari. Untuk membujuk Ponari kembali bersekolah bukan soal mudah. Ponari khusus dijemput Kepala Sekolahnya, Miharso, naik mobil Suzuki Katana. Miharso pun harus menggendong Ponari ke dalam mobil. Ponari juga enggan diliput wartawan. Dia juga enggan menerima pasien saat berada di sekolah.
Kalau begini, bagaimana mau lulus?

Kabar yang beredar, Ponari tak lulus karena malas dan kerap absen. Kabar ini pun menjadi perbincangan ramai di desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang.
“Ia, desa ini geger dengan kabar ketidaklulusan Ponari,” kata Subati, seorang pegawai yang bekerja di kantor Camat Plandaan, saat dihubungi merdeka.com, Senin (9/7/2012).

Subati mengatakan, kabar itu sudah mereka dengar sejak bulan Mei lalu. Namun, Subati tidak mengetahui pasti kapan hasil UN itu diumumkan pihak sekolah.

“Soalnya itu cuma kabar dari mulut ke mulut. Tetapi sudah jadi perbincangan ramai,” jelasnya.

Saat namanya populer, puluhan ribu warga Jombang bahkan luar daerah datang ke rumahnya untuk berobat. Dengan sebuah batu yang dipegangnya kemudian dicelupkan ke air, lalu air itu diminum mereka yang sakit diyakini bisa menyembuhkan penyakit si pasien.

Tapi ketenaran Ponari hanya sesaat. Parahnya, tidak diikuti pula dengan prestasi belajar yang baik hingga akhirnya dia tinggal kelas dan tetap menggunakan seragam SD.

Menurut Subati, saat ini tren orang berobat ke Ponari sudah redup. Tak ada lagi warga yang berbondong-bondong ke rumahnya seperti pada tahun 2009 silam.

“Saya dengar sih begitu, udah gak ada lagi yang berobat. Sudah sepi,” ungkapnya.

Begitulah. Cerita tentang Ponari ini tiga tahun lalu itu pun sebenarnya sudah mendapat kritikan. Berita yang berlebih-lebihan tentang Ponari dinilai telah membuat opini yang menyesatkan dan pembodohan terhadap publik–bahkan sejumlah ulama menyebutnya sebagai perilaku syirik yang terjadi di tengah masyarakat.
Kiranya, dengan kasus di atas, lingkungan Ponari, utamanya lingkungan rumah dan sekolahnya, menyadari, sehingga mampu memberi motivasi positif yang mencerahkan. Tak lagi “membuka peluang” Ponari untuk menjadi “dukun” yang justru bertolak belakang dengan fitrah dan perintah Allah.

Jutaan anak Indonesia, seperti halnya Ponari, mestinya mendapat pencerahan, bukan malah mengajarkannya pada perilaku musyrik, takhayul, bid’ah dan khurafat. Sungguh ironis, anak-anak diajarkan mau lulus pergi ke dukun, dan dukunnya yang masih SD pula, malah tidak lulus.

Anak-anak sejak dini harus diajarkan, jika mau sukses kudu usaha, bedoa dan dekat dengan Allah. Bukan malah pergi ke dukun yang sang dukunnya pun tak mampu menolong dirinya. Karena hanya Allah saja yang bisa menolong dan membuat kita sukses–di dunia dan akhirat.

Sekali lagi, demi masa depan Indonesia yang bermartabat, maju dan mendapat ridho Allah, jangan bodohi anak-anak dan bangsa ini dengan perilaku yang tak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Selasa, 24 Juli 2012

Kisah Telor dan Tempe Gosong


Dua puluh tahun telah berlalu, namun masih terbayang jelas kenangan indah bersama dengan mama dan papa.

Suatu malam, mama yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam 7 malam mama selesai menghidangkan makan malam papa yang sangat sederhana berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.

Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong !, saya melihat mama sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis.

Kami menunggu dengan tegang apa reaksi papa yang pulang kerja, pasti sudah capek melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.

Luar biasa !Papa dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan mama dengan tersenyum, dan bahkan berkata; ” mama, terima kasih ya!”, dan papa terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan, aku mendengar mama meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu, dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang papa katakan: “Sayang, kok kamu tahu kalau aku suka sama telor dan tempe yang gosong.”

Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada papa, saya bertanya apakah papa benar-benar menyukai telur dan tempe gosong ?”

Papa memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata “Anakku, mama sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek, Jadi pastikan sepotong telor dan tempe yang gosong tadi tidak akan menyakiti siapa pun!”

Inilah pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya, tahun tahun ketika saya merajut sebuah bahtera indah; pelajaran yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat.

Selasa, 10 Juli 2012

Mike Marcum - Kisah Seorang Pria Yang Berusaha Membuat Mesin Waktu



Mike Marcum membuat heboh ketika pada tahun 1995 muncul di acara radio Coast to Coast dan mengatakan bahwa ia memiliki konsep mesin waktu yang dapat direalisasikan. Entahkah mesin waktu itu bekerja atau tidak, tapi konon kabarnya, sejak tahun 1997, Mike Marcum menghilang tanpa jejak. Apakah ia berhasil melakukan perjalanan lintas waktu ?


Orang-orang menyebutnya Mike "Mad" Marcum. Pada tahun 1995, Ia mencoba untuk membuat sebuah mesin waktu dari serambi rumahnya di Missouri, Amerika Serikat. Ia memberikan alasannya membuat mesin waktu, yaitu untuk melihat nomor lotere yang akan keluar dari masa depan.




Pada tahun 1995, Marcum baru berusia 21 tahun dan kuliah di bidang kelistrikan. Menurut orang-orang yang mengenalnya, Marcum memang dikenal sebagai seorang yang cerdas.


Dalam wawancaranya dengan Art Bell, Host dari acara radio Coast to Coast, Marcum mengatakan bahwa ia menciptakan mesin waktu dengan "Tangga Yakub".


Tangga Yakub adalah sebuah peralatan yang memiliki dua batangan logam dengan percikan-percikan listrik diantaranya. Dalam film-film kuno, konsep tangga Yakub dapat kita lihat sebagai alat yang menciptakan kehidupan bagi Frankenstein. Dan seperti Frankenstein, menurut Marcum, sesuatu yang besar terjadi ketika Tangga Yakub-nya dijalankan.






"Tepat diatas Tangga Yakub, tercipta sebuah kondisi panas dengan lingkaran di tengahnya." Kata Marcum pada saat wawancara dengan Art Bell. "Pada mulanya, aku tidak mengetahui dengan pasti apa yang sedang terjadi. Bahkan sampai saat ini aku masih belum yakin."


Menurut Marcum, Ia kemudian melemparkan sebuah sekrup ke dalam lingkaran itu.


"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, jadi aku mencoba melempar sekrup kedalamnya dan melihat apa yang terjadi," Katanya kepada Bell. "Setelah aku melemparnya, aku tidak melihat sekrup itu lagi."


Sekrup itu hilang, kata Marcum, lalu beberapa detik kemudian, muncul kembali secara tiba-tiba beberapa kaki dari tempatnya berdiri.


Dipenuhi rasa ingin tahu, Marcum lalu memutuskan melakukan sesuatu. Ia membuat Tangga Yakub sebesar manusia dengan 168 elektromagnetik di serambi rumahnya. Setelah Tangga Yakubnya selesai, Marcum masih memiliki satu masalah. Ia membutuhkan sumber listrik.


Jadi, dengan obsesinya yang menggebu, ia pergi ke sebuah gardu listrik di St Joseph dan mencuri 6 transformer dari situ.


Sherif Eugene Lupfer yang mengetahui hal itu segera menuju rumah Marcum dan menemukan keenam transformer tersebut telah terinstall ke Tangga Yakub-nya. Sebelum Marcum menyalakan peralatannya, Sherif telah memborgol tangannya dan menggiringnya ke penjara.






Setelah menjalani hukuman penjara selama beberapa lama, Marcum dibebaskan. Ia kemudian pindah ke sebuah Apartemen di St. Joseph dan mulai mengerjakan mesin waktunya kembali. Namun kemudian, pemilik apartemen mengusirnya. Menurut The New York Times, ia diusir karena memindahkan seekor kucing "sejauh satu blok". Entah apa maksudnya.


Pada tahun 1996, Marcum kembali muncul di acara radio Coast to Coast. Pada saat itu ia mengatakan bahwa 30 hari lagi ia dapat menyelesaikan mesin waktunya.


Itu adalah kemunculannya yang terakhir. Pada Januari 1997, Marcum menghilang.


Setelah hilangnya Marcum, seorang pria dari Orange County menelepon Art Bell. Ia mengatakan bahwa ia ingat dengan sebuah foto dari surat kabar edisi beberapa tahun lalu yang menceritakan sebuah peristiwa misterius yang terjadi pada tahun 1920an.


Menurut surat kabar tersebut, pada tahun 1920an, polisi menemukan mayat seorang pria di sebuah tabung besar yang aneh. Tubuh pria tersebut hancur berantakan. Disebelah tubuh tersebut ditemukan sebuah peralatan aneh. Para polisi saat itu tidak bisa mengidentifikasi peralatan itu atau identitas mayat itu. Penyebab kematiannya juga tidak dapat dipecahkan.


Pria dari Orange County ini kemudian ingat kepada foto tersebut dan ia mengatakan bahwa peralatan disamping mayat tersebut mirip dengan sebuah ponsel.


Apakah Marcum berhasil melakukan perjalanan lintas waktu ke masa lalu ? Apakah mayat pria tersebut adalah Marcum ?


Berbeda dengan Andrew Carlssin yang memang cenderung fiktif, kisah Mike Marcum adalah sebuah kisah nyata. Ia bukan tokoh fantasi. Kemunculannya di Coast to Coast juga nyata. Mesin waktu yang dibangunnya juga nyata. Pencurian enam transformernya juga nyata. Satu-satunya yang meragukan adalah keberhasilannya membuat mesin waktu.


Dan mungkin juga Marcum tidak menghilang, mungkin ia memutuskan untuk menyerah dan bekerja sebagai tukang listrik di Missouri. Atau mungkin ia sedang mencoba mengerjakan mesin waktu lainnya. Kita tidak tahu pasti.


Saya suka dengan Marcum karena ia adalah pria biasa seperti kita. Bila Prof. Ronald Mallet membuat mesin waktu untuk menyelamatkan ayahnya, Marcum, secara sederhana dan polos mengatakan bahwa ia hanya ingin mengetahui nomor lotere yang akan keluar. Ia tidak berusaha menjadi pahlawan dengan memberikan alasan mulia untuk usahanya.


Jadi, saya memutuskan untuk tetap menulis kisah hidup Marcum tanpa peduli apakah mesin waktunya benar-benar bekerja. Mudah-mudahan kisah Marcum bisa sedikit memuaskan fantasi kita mengenai Time Travel.

Jumat, 06 Juli 2012

Tak Jadi Mencuri Terong, Allah Malah Menganugerahkannya Istri

 Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami’ At-Taubah. Dia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syeh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanan ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.
Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.
Rumah-rumah dimasa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu. Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil satu, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada ditangannya dan saat itu dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berkata, ‘A’udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di mesjid , pantaskah aku masuk kerumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?’ Dia merasa bahwa ini adalah kesalahan besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada ditangannya. Akhirnya dia pulang kembali ketempat semula. Lalu ia masuk kedalam masjid dan mendengarkan syeh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.
Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syeh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syeh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggillah ia dan syeh itu bertanya, ‘Apakah kamu sudah menikah?’, dijawab, ‘Belum,’. Syeh itu bertanya lagi, ‘Apakah kau ingin menikah?’. Pemuda itu diam. Syeh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, ‘Ya Syeh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?’. Syeh itu menjawab, ‘Wanita ini datang membawa khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin’, kata syeh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokan. Syeh itu melanjutkan pembicaraannya, ‘Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu menjawab ‘Ya’. Kemudian Syeh bertanya kepada wanita itu, ‘Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?’, ia menjawab ‘Ya’. Maka Syeh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. Kemudian syeh itu berkata, ‘peganglah tangan isterimu!’ Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya kerumahnya. Setelah keduanya masuk kedalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.
Sang isteri bertanya, ‘Kau ingin makan?’ ‘Ya’ jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci didapurnya. Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: ‘heran siapa yang masuk kerumah dan menggigit terong ini?!’. Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, ‘Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.
Wallahu a’lam

Ya Rabb..Matikanlah Aku…dan hidupkanlah Ayahku…!!


Pagi ini kubangun dengan cepat sebagaimana kebiasaanku..walaupun ini hari libur, begitupula anakku Reem, terbiasa dengan bangun lebih pagi.

Lalu akududuk di ruang kerjaku dan mulai menyibukkan diri dengan buku-buku dan lembaran-lembaran kertasku..

“Mama, apa yang kau tulis?”

“Mama menulis surat untuk Rabb, nak”

“Apakah kau mengizinkaku untuk membacanya mama?”

“Tidak anakku sayang, ini surat yang sangat special dan tidak kuizinkan siapa pun membacanya”

kukeluarkan Reem dari ruang kerjaku, dan dia sangat sedih, namun kuyakin ia telah terbiasa dengan perlakuan ku itu, karena penolakanku bukan sekali ini saja tapi telah berulang kali

Berlalu beberapa pekan kejadian itu, hingga suatu hari aku masuk ke kamar Reem dan dia sangat terkejut gugup dengan kedatanganku…Ada apa?mengapa ia seperti itu?

“Reem…apa yang sedang kau tulis?”

Kuliahat ia makin gugup dan menjawab “ Tidak mama…ini sesuatu yang spesial”

Apa gerangan yang telah dituliskan seorang anak sembilan tahun, dan ia khawatir untuk kuketahui??!!

“ Reem menulis surat untuk Rabb, sepertimu mama ….”

Ucapannya terputus tiba-tiba, lalu ia meneruskan “ tapi…apakah yang kita tulis ini akan sampai pada-Nya mama?

“Tentu anakku…sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu…”

Ia tetap tak mengizinkan ku membaca apa yang telah ditulisnya, aku pun keluar dari kamarnya dan menemui suamiku Rasyid yang sedang sakit untuk membacakannya koran pagi sebagaimana biasanya, lisanku membaca baris demi baris isi koran namun fikiranku tak lepas dari anakku…ternyata Rasyid memperhatikan ekspresiku… dan menduga bahwa dirinya sebab kesedihanku… ia mencoba meyakinkanku untuk menghadirkan perawat untuknya… agar bebanku sedikit berkurang…

Ya Ilahi, sungguh Saya tak pernah berfikir demikian..kudekap dan kukecup kepalanya yang dipenuhi beban dan peluh karena memikirkan diri ini dan anaknya Reem..dan membuatku turut bersedih hari ini..lalu kusampaikan padanya sebab resah dan sedih ku…

Hari ini Reem kesekolah, dan ketika ia kembali kerumah ,dokter sedang terburu-buru memeriksa Ayahnya yang sakit, ia pun duduk disamping ayahnya memberi semangat dengan penuh cinta.

Sebelum Dokter beranjak pergi, ia menjelaskan kepadaku bahwa keadaan Rasyid semakin memburuk. dan seolah Saya lupa kalau Reem masihlah sangat kecil, hingga tanpa kasihan padanya Saya berterus terang bahwa hati ayahnya yang dipenuhi cinta untuk Reem kini telah melemah, dan ia hanya mampu bertahan hidup tidak lebih dari 3 pekan lagi. Hancur hati Reem, ia mulai menangis dan berkata :

“Mengapa semua ini menimpa Ayah? mengapa?”

“Doakanlah kesembuhan untuk Ayah Reem, kita harus melewati semua ini dengan tegar, dan tidak melupakan rahmat Allah, sungguh Dia Maha Kuasa atas segala yang terjadi..dan kau sudah besar..” Reem menyimak semua apa yang diucapkan Ibunya, berusaha menghilangkan kesedihannya, menepis jauh rasa sakitnya dan berusaha untuk tampak tegar, kemudian berkata : “ Ayah ku tak akan mati “

Setiap pagi Reem mencium pipi ayahnya yang hangat, namun pagi ini ia menciumnya dengan tatapan kasih penuh harap, dan berkata : “ Semoga suatu hari nanti kau bisa mengantarku seperti teman-temanku yang lain…” , Ayahnya seketika diserbu keharuan dan kesedihan namun berusaha ia tutupi, ia berkata : “ InsyaAllah, akan datang hari dimana ayah akan mengantarmu Reem..” dan ia yakin ucapannya barusan tak akan pernah mampu menyempurnakan kebahagiaan putri kecilnya.

Kuantar Reem kesekolahnya, dan setiba di rumah tiba-tiba rasa ingin tahu akan surat yang ditulis Reem untuk Allah muncul, maka kumencari dikamarnya, namun setelah pencarian yang panjang ku tak menemukannya. Dimana surat itu???! Apakah ia merobek setelah menulisnya??!

Hah…mungkin di kardus ini, kardus yang ia minta dariku berulang kali, maka kukosongkan dan kuberikan padanya..Ya Ilahiy…kardus ini berisi surat yang sangat banyak…dan semuanya untuk Allah!

**Ya Rabb…Ya Rabb..matikanlah anjing Sa’id tetangga kami …karena ia telah membuatku takut!!

**Ya Rabb...Biarkanlah kucing kami melahirkan anak yang banyak..menggantikan anak-anaknya yang banyak mati!!!

**Ya Rabb…Luluskanlah sepupuku…karena Saya mencintainya!!

**Ya Rabb…Jadikanlah bunga-bunga di kebun kami tumbuh dengan cepat…untuk Saya petik dan berikan ke guruku tiap harinya!!

Dan banyak lagi surat-surat yang lain, yang begitu lugu ia tuliskan dan surat terakhir yang kubaca berbunyi :

**Ya Rabb..kuatkanlah akal pembantu kami..agar tidak membebani ibuku..

Ya Ilahiy, semua suratnya telah terjawab, anjing tetangga kami telah mati lebih dari sepekan yang lalu, kucing kami pun telah melahirkan anak yang banyak, Ahmad telah lulus dengan nilai yang tinggi, bunga-bunga bermekaran dengan cepat, dan Reem memetiknya tiap hari untuk gurunya…

Ya Ilahiy, mengapa Reem tak menuliskan surat dan memohon untuk kesembuhan Ayahnya dari sakit??...!!

Sedih bercampur bingung meliputi hatiku…belum juga reda sampai aku dikagetkan deringan telpon, pembantu kami mengangkatnya lalu memanggilku,

“ Nyonya…dari guru Reem..”

“Iya, ada apa bu?ada apa dengan Reem?apa dia melakukan sesuatu?”

Ia menyampaikan bahwa Reem jatuh dari lantai 4..ketika ia membawakan bunga gurunya yang tidak hadir di sekolah hari ini.. ia menjulurkan kepalanya dari balkon.. bunganya terjatuh…dan ia pun terjatuh..

Pukulan yang sangat keras bagiku tak mampu kuberbuat apapun begitu pula Rasyid..dan keterkejutan ini membuatnya tak mampu menggerakkan lisannya sejak hari itu

“Mengapa Reem harus meninggal…Saya sungguh tak mampu memikirkan kematian putriku tercinta..”

Dan kini seolah aku menipu diriku sendiri dengan kesekolah Reem tiap pagi seperti mengantarnya, kukerjakan semua apa yang ia senangi untuk kulakukan, semua sudut rumah mengingatkanku padanya, senantiasa kuteringat suara tawa nya yang menghidupkan suasana di rumah ini..beberapa tahun berlalu…namun terasa hanya beberapa hari saja…berjalan begitu lambat

Pagi hari jum’at…tiba-tiba pembantu kami datang dan ia ketakutan berkata..bahwa ia mendengar suara berasal dari kamar Reem…Ya Ilahiy, apakah masuk akal kalau Reem kembali?? ini gila..

“Kamu mengkhayal..” aku belum pernah menginjakkan kaki di kamar ini sejak kematian Reem..
Rasyid bersikeras agar aku ke kamar Reem dan melihat ada apa disana..

Kumasukkan kunci di pintu dengan hati was-was …kubuka pintu dan tak sanggup mengendalikan diri..aku duduk dan terus menangis…kuhempaskan badanku di tempat tidurnya..ahh…kenangan!!

Reem pernah menyampaikan berulang kali padaku kalau tempat tidurnya bergeser jika ia bergerak, dan mengeluarkan suara…dan aku selalu lupa untuk memanggil tukang kayu untuk memperbaikinya…tak ada guna lagi sekarang…

Tapi, dari mana asal suara tadi…ya, itu suara dari jatuhnya lukisan ayat kursi yang ia hias karena sangat semangat membacanya tiap hari sampai ia menghafalkannya..

Ketika aku mengangkatnya untuk memasang kembali, aku menemukan secarik kertas yang ia taruh dibelakang lukisan…Ya Ilahiy, ini salah satu suratnya…Apa gerangan isi surat ini??!! dan mengapa Reem meletakkannya di belakang tulisan ayat mulia??!! surat ini salah satu dari surat-surat yang dituliskannya untuk Allah…dan di dalamnya tertulis :

**Ya Rabb…Ya Rabb..Matikanlah Saya…dan hidupkanlah Ayahku…!!

KISAH SEORANG DOKTER DAN AYAH PASIEN



Seorang Dokter sedang bergegas masuk ke dalam ruang operasi. Ayah dari anak yang akan dioperasi menghampirinya dan berkata: "Kenapa lama sekali anda sampai ke sini? Apa anda tidak tahu, nyawa anak saya terancam jika tidak segera di operasi ?" labrak si Ayah.

Dokter itu tersenyum, "Maaf, saya sedang tidak di RS tadi, tapi saya secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak RS."



Kemudian ia bergegas menuju ruang operasi, setelah beberapa jam ia keluar dengan senyuman di wajahnya. "Alhamdulillah keadaan anak anda kini stabil." Tanpa menunggu jawaban sang Ayah, Dokter tersebut berkata, "Perawat akan membantu anda jika ada yang ingin anda tanyakan." Kemudian Dokter tersebut berlalu.

"Kenapa Dokter itu angkuh sekali ? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya !"  kata sang Ayah kepada Perawat

Sambil meneteskan airmata Perawat menjawab, "Anak Dokter tersebut meninggal dunia karena kecelakaan kemarin sore, ia sedang menguburkan anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak anda. Sekarang anak anda telah selamat, dan ia bisa kembali berkabung."

TERBONGKARNYA RAHASIA SI SUAMI



Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami isteri itu belum dikurniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “Masih belum punya anak juga ya, masalahnya pada  siapa ya? Suaminya atau isterinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi  buah mulut .

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami isteri itu pergi ke salah seorang doktor untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil ujian makmal
 mengatakan bahwa sang isteri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang isteri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang doktor dengan membawa hasil ujian makmal  dan sama sekali tidak memberitahu isterinya dan membiarkan sang isteri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang doktor: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada isteri saya bahwa masalahnya ada pada  saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Terus  saja sang doktor menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang doktor, akhirnya sang doktor setuju untuk mengatakan kepada sang isteri bahwa masalah tidak datangnya keturunan,  ada pada sang suami dan bukan ada pada sang isteri.

Sang suami memanggil sang isteri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang isteri ia memasuki ruang doktor. Maka sang dokter membuka sampul  hasil ujian makmal, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara isterimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

Mendengar pengumuman sang doktor, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya, wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami isteri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami isteri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang isteri berkata kepada suaminya: “Wahai suami ku , saya telah bersabar selam sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang isteri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak dapat  bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya boleh  menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya dapat  melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang isteri yang memuncak, sang suami berkata: “isteriku, ini cubaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang isteri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang isteri jatuh sakit, dan hasil ujian makmal mengatakan bahwa sang isteri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang isteri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin membelai dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun  terlantar di hospital.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang isteri. “Ya, saya akan pergi kerana tugas dan sambil  mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum pembedahan , datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang isteri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami tak berguna  dia itu, isterinya dibedah , eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang pembedahan”.

Pembedahan  berhasil dengan sangat baik. Setelah satu minggu , suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang isteri, tetangga dan siapa pun selain doktor yang dipesannya agar menutup rapat rahsia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah sembilan (9) bulan dari pembedahan  itu, sang isteri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakulti syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah mahkamah  di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas  out station, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang isteri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahsia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelefon  suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telefon  isterinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulan  sang isteri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berkata  dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)
[sumber: www.seorangayah.wordpress.com]

Kamis, 05 Juli 2012

Kisah Keajaiban Al Qur'an: MAlaikat turut mendengarkan




Tengah malam itu suasana tenang dan hening sekali. Usaid bin Hudhair duduk di beranda belakang rumahnya.Putranya, Yahya, yang masih balita sudah lama terlelap di sam pingnya. Tidak jauh dari tempatnya duduk, seekor kuda siap tertambat.

Sewaktu-waktu jika perintah perang fisabilillah dari Rasulullah keluar, dia dapat dengan sigap menunggangnya. Di keheningan malam itu, Usaid membaca Alqur an dengan khusyuk dan penuh 

penghayatan. Ayat demi ayat dia lantunkan dengan suara merdu. Ia membaca surah al-Baqarah ayat 1-4.

Ketika melantunkan ayat-ayat suci tersebut, kudanya lari berputar-putar hampir memutuskan tali pengikatnya. Sampai di ujung ayat keempat al-Baqarah tersebut, Usaid menghentikan bacaannya, ingin tahu apa yang terjadi pada kudanya. Usaid tidak melihat apa pun.

Bersamaan dengan berhentinya Usaid melantunkan ayat-ayat suci, kudanya kembali tenang. Usaid kembali melanjutkan bacaannya. “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orangorang yang beruntung.” (QS [2]: 5).

Kudanya kembali meronta, berputar-putar lebih hebat dari yang pertama. Usaid pun kembali menghentikan bacaannya. Kudanya kembali diam. Demikianlah terjadi berulang-ulang. Setiap kali Usaid membaca Alquran kudanya meronta, setiap kali Usaid diam kudanya juga diam.

Khawatir dengan keselamatan anaknya, Usaid membangunkan anaknya. Ketika itulah dia melihat ke langit, terlihat awan seperti payung yang mengagumkan, belum pernah dia lihat sebelumnya. Esok paginya, hal itu dia ceritakan kepada Rasulullah SAW.

Rasul bersabda, “Hai Usaid, itu malaikat yang turun mendengarkan engkau membaca Alquran. Seandainya engkau teruskan bacaanmu, pastilah orang banyak akan melihatnya pula. Pemandangan itu tidak akan tertutup bagi mereka.”

Usaid sangat mencintai Alquran, bahkan sejak pertama kali mendengarkan ayat-ayat Alquran dilantunkan oleh Mush’ab bin Umair, dai muda yang dikirim Rasulullah SAW sebagai perintis dakwah di Kota Yatsrib. Saat itu, Mush’ab sedang menyampaikan Islam kepada orang-orang yang sudah masuk Islam, tiba-tiba Usaid datang.

Usaid berkata dengan nada menuding, “Apa maksud Tuan da tang ke sini? Tuan hendak mempengaruhi rakyat kami yang bodoh-bodoh. Pergilah Tuan sekarang, jika Tuan masih ingin hidup!” Dengan wajah tenang karena pantulan iman, Mush’ab menjawab, “Wahai pemimpin, silakan duduk bersama kami, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Jika Anda suka apa yang kami bicarakan, silakan ambil. Dan jika Anda tidak suka, kami akan meninggalkan Anda dan tidak kembali lagi ke kampung Anda ini.”

Usaid setuju, lalu mulai mendengarkan Mush’ab menjelaskan Islam sambil membaca ayat-ayat Alquran. Rasa gembira terpancar di wajah Usaid. Dia langsung mengaguminya.

“Alangkah indahnya apa yang Tuan baca,” kata Usaid. “Apa yang dapat saya lakukan jika aku ingin memeluk Islam?” katanya lebih lanjut. Di bawah bimbingan Mush’ab, Usaid masuk Islam. Sejak itu Usaid men cintai Alquran seperti seseorang mencintai kekasihnya. Itulah Usaid bin Hudhair yang malaikat pun turun mendengarkan bacaannya.

Rabu, 04 Juli 2012

Malangnya Tamimi Syawalludin Pohan, Bocah 5 Tahun yang Sudah 30 Kali Mengalami Patah Tulang

http://2.bp.blogspot.com/-or_Ve2-mwIs/T-p32X9cLOI/AAAAAAAAHjY/3vSkqvfsGKI/s1600/tamimi3.jpgJari-jari kaki seorang bocah mencongkel tanah dengan hati-hati. Secara lembut ia mengistirahatkan kakinya beralaskan lantai. Dengan perlahan ia mendorongkan kakinya ke depan ketika ayahnya memegang erat pada lengannya, dan ibunya bertepuk tangan untuk menyemangatinya. Anda mungkin mengira adegan itu momen orang tua sedang mengajari anaknya pertama kali berjalan, perkiraan anda keliru. Anak itu bernama Tamimi Syawalludin Pohan, usianya sudah 5 tahun. Tamimi menderita penyakit tulang rapuh, suatu kelainan genetik yang menyebabkan tulangnya mudah patah. Bahkan terkadang, tulang patah tanpa ada sebab yang jelas. Sejak lahir hingga usia 5 tahun, Tamimi sudah mengalami sekitar 30 kali patah tulang, yang paling sering terjadi di bagian yang melengkung pada tulang paha. Ia berobat ke rumah sakit hampir setiap bulan dan orang tuanya biasanya menggunakan kartu jaminan kesehatan mereka untuk membayar tagihan medis. Ibu Tamimi, Sarina Siregar, 41, mengatakan mereka tidak pernah menghitung berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk membiayai pengobatan anaknya.
http://1.bp.blogspot.com/-oa18fqpF4zU/T-p31nzeexI/AAAAAAAAHjA/255cbDmEdT0/s1600/tamimi1.jpg
 Ketika anak-anak lain seusianya bisa berlari, Tamimi bahkan belum bisa berdiri tegak. Selama bertahun-tahun, putranya menggunakan lengan untuk merangkak mengitari rumah dan ia harus di dorong kereta bayi jika bepergian. Namun, mereka bersyukur atas keberhasilan operasi di Rumah Sakit Anak dan Perempuan KK (KKH) pada pertengahan bulan Maret lalu, karena sejak itu segala sesuatnya berubah. Waktu itu paha kaki kiri Tamimi patah dan dilakukan operasi selama tiga jam. 
Dalam operasi itu tim dokter memasukkan sebatang logam untuk meluruskan kaki kiri itu. Ny Sarina masih ingat betapa takutnya dia sehari sebelum operasi dilakukan. “Saya tidak yakin apakah operasi itu akan berhasil, namun harus terus meyakinkan buah hati saya dan memberinya harapan,” kata Sarinya kepada sebuah media lokal di Deport Road, Singapura. Operasi yang sangat berarti bagi Tamimi itu menelain biaya lebih dari Rp 85 juta. Ny Sarina mengatakan mereka tak sanggup membiayai operasi itu. Beruntung mereka mendapat bantuan dana dari teman-teman, kerabat, sanak keluarga dan juga bantuan dari Rumah Sakit KKH. 

 

Maria Esther Indrasari, Wanita Indonesia Yang Menjadi Polisi di Amerika

Akibat sepinya bisnis desain interior yang digelutinya selama tinggal di Amerika Serikat (AS), Maria Esther Indrasari mencari kerja di pemerintahan untuk menjadi deputy sheriff (anggota polisi wilayah) di AS. Wanita kelahiran Bandung, Jawa Barat ini sejak tahun 2000 pindah ke AS setelah menikah dengan pria Amerika yang dikenalnya saat aktif di NGO (Non Governmental Organization). Kepindahannya ke AS juga dimanfaatkan untuk melanjutkan sekolah desain interior di University of North Carolina at Greensboro (UNCG). Cerita ini dilaporkan Mang Jamal, jurnalis warga di Kompasiana.com (1/02/2012). Menurut laporannya, proses Indrasari untuk menjadi deputy sherrif terbilang panjang dan harus masuk akademi kepolisian terlebih dahulu selama enam bulan untuk mengikuti pelatihan. "Setelah gagal mengikuti tes masuk sebelas kali, akhirnya saat mengikuti tes masuk yang ke 12, dia diterima di Palm Beach State College- Police Academy dan mengikuti latihan selama enam bulan." tulis Mang Jamal di Kompasiana. Saat dihubungi KOMPAS.com melalui telepon, Jumat (3/2/2012) ini, Mang Jamal mengaku sebagai dosen Indrasari saat kuliah di Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung, jurusan desain interior. "Saya dosennya Indrasari waktu di Itenas dan sampai sekarang masih sering berhubungan melalui Facebook dan email." kata Mang Jamal. Sekarang Indrasari menjadi deputy sheriff di wilayah Palm Beach, Florida, AS sejak lulus dari Palm Beach State College- Police Academy sekitar tahun 2006-2007.Saat itu, Palm Beach Sheriff Office sedang membutuhkan polisi dari ras Asia dan Indrasari lolos seleksi dengan nilai tes masuk paling tinggi dan satu-satunya perempuan Asia yang diterima menjadi deputy sheriff. Di sela-sela kesibukannya menjadi deputy sheriff, Indrasari melanjutkan sekolahnya lagi di Florida Atlantic University bidang psikologi forensik.






Sumber Berita: http://www.masukgan.com

Secangkir Kopi Pak Kiai…


SEROMBONGAN cendekiawan dan ulama muda datang mengunjungi Kiai Sepuh di sebuah pesantren kecil di desa. Meskipun dari pesantren kecil dan di desa pula, Kiai Sepuh ini kerap sekali menerima tamu dari berbagai kalangan untuk berbagai urusan. Kiai Sepuh ini terkenal dengan kemampuannya menyelesaikan berbagai persoalan yang rumit dengan caranya yang khas – sederhana dan agak mbanyol (ngelawak). Seperti biasa Pak Kiai akan mendengarkan dahulu masalah para tamunya, baru kemudian memberikan solusinya.

Maka satu demi satu rombongan cendekiawan dan ulama muda tersebut mengutarakan problemnya masing masing. Ada yang mengeluhkan problem dakwahnya yang mengalami hambatan di sana-sini karena kekurangan dana, ada yang mengeluhkan problem keluarganya, ada yang mengeluhkan hedonism masyarakat yang berpikiran serba materi, ada yang mengeluhkan kondisi umat yang semakin jauh dari tuntunan agamanya dlsb.



Setelah semua tamunya berkesempatan menyampaikan uneg-uneg mereka, Pak Kiai minta ijin tamunya untuk mengambilkan kopi di belakang – saking sederhananya Pak Kiai ini sampai tidak memiliki pembantu. Tidak lama kemudian Pak Kiai datang dengan membawa teko panas berisi kopi, didampingi istrinya yang membawakan sejumlah cangkir.

Karena kesederhaannya pula di antara cangkir-cangkir tersebut tidak ada yang sama bentuk, model maupun ukurannya. Menyadari akan adanya rasa penasaran para tamunya, Pak Kiai-pun menjelaskan : “Anu, itu cangkir-cangkir yang ditinggalkan para santri yang sudah lulus dan keluar dari pesantren ini…”. Kemudian dia menyilahkan tamunya : “Silahkan ambil sendiri kopinya…”. 

Setengah berebut, para tamunya memilih cangkir-cangkir yang paling baik untuk mengambil kopinya. Jumlah cangkir memang cukup dan semuanya mendapatkan cangkirnya, tetapi tentu saja yang duluan yang mendapatkan cangkir yang paling bagus.

Sambil memperhatikan tamunya menikmati kopi dari beraneka ragam cangkir, Pak Kiai –pun siap memberikan satu solusi untuk seluruh keluhan dan masalah yang disampaikan oleh tamu-tamu tersebut.

“Dari apa yang saya dengarkan tadi, dan dari cangkir-cangkir kopi yang kalian pegang – masalah kalian sebenarnya sederhana”. Dia melanjutkan : “Selama ini terasa rumit, karena kalian fokus pada cangkirnya bukan pada kopinya”. “Yang kalian butuhkan kopi karena yang meredakan dahaga adalah kopi – sedangkan cangkir hanyalah alat untuk bisa minum kopi”. “Bila kalian terlalu fokus pada alat, kalian tidak akan sampai pada tujuan….”

“Sekarang fokuslah pada kopi kalian, maka cangkir yang berwarna-warni beraneka bentuk tidak akan mengganggu kenikmatan kopi kalian…!”

Lalu Pak Kiai membacakan surat Ad Dzariyat – ayat 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
 
 

Lalu beliau menutup nasihat pada para tamunya : “Selama kalian tidak kehilangan fokus pada tujuan hidup kalian yaitu menyembah kepadaNya, selama kalian hanya mengajak masyarakat kalian untuk menyembah kepadaNya, insyaallah kalian tidak akan terganggu oleh aneka persoalan, kepentingan, golongan, pemikiran, partai dan sejenisnya.”

Para tetamu hanya manggut-manggut sambil menginstrospeksi diri, mereka mengurai permasalahan mereka masing-masing di dalam hati. Dalam hati pula sebagian mereka berkata: “Jadi selama ini kita berebutan cangkir, sampai melupakan kopinya sendiri.”

Kita ini sesungguhnya seperti para tetamu Pak Kiai tersebut, kita terlalu fokus pada cangkir sehingga malah tidak bisa menikmati kopinya. Pekerjaan kita, usaha kita, komunitas kita dan bahkan juga keluarga kita sesungguhnya hanya cangkir berbagai bentuk tadi. Kopinya adalah tugas kita untuk hanya beribadat kepada Nya.

Boleh saja membagus-baguskan cangkir tetapi tetap harus dalam rangka untuk dipakai menikmati kopi. Semangat membaguskan cangkir tidak boleh melalaikan kita sampai lupa tidak mengisinya dengan kopi. Cangkir-cangkir tersebut juga bukan pajangan, yang dinikmati keindahannya tetapi tidak digunakan untuk fungsi yang seharusnya – yaitu minum kopi.

Sekarang waktunya untuk belajar menikmati rasa ‘kopi’ itu, keindahan cangkir bisa menambah kenikmatannya – tetapi jangan melalaikannya. InsyaAllah.

Kisah Menakjubkan Dari Tanah Arabia


Manakah Yang Lebih Menakjubkan ???




Kisah menakjubkan yang disampaikan oleh seorang da'i. Sang da'i berkata : “Pelaku kisah ini bercerita kepadaku”:

“Suatu hari aku bersafar dari Thoif menuju Riyadh bersama istri dan anak-anakku. Akan tetapi di tengah jalan mobilku rusak. Tatkala itu cuaca panas. Maka akupun berhenti di dekat salah satu pom bensin (*tempat peristirahatan yang juga lengkap dengan warung serta bengkel). Maka aku mengecek mobilku dengan memanggil seorang montir yang ada di bengkel disekitar pom bensin tersebut. Sang montir mengabarkan bahwa mobilku rusak berat, mesin penggeraknya rusak, hanya bisa diperbaiki di Thoif atau di Riyadh.


Maka akupun berdiri di bawah terik matahari, sementara istri dan anak-anakku tetap berada di dalam mobil. Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan…, anak-anakku bagaimana…?, istriku?, mobilku?, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Orang-orang melewatiku dan melihat kondisiku akan tetapi tidak seorangpun yang menyapaku, semuanya lewat dengan cuek. Hingga akhirnya tidak berapa lama kemudian ada seseorang yang lewat dan berkata, “Semoga Allah menolongmu…, semoga Allah memberi kemudahan padamu”. Ini adalah orang yang terbaik yang lewat, ia mendoakanku. Tak lama kemudian ada seseorang yang keluar dari pom bensin lalu berhenti di mobilku yang rusak lalu menyapaku,

“Assalaamu’alaikum”, Aku berkata, “Wa’alaikum salam”. Ia berkata, “Ada apa dengan mobilmu, semoga baik-baik saja?”. Aku berkata, “Mobilku rusak”. Rupanya orang ini punya keahlian tentang mesin mobil. Maka ia berkata, “Coba aku cek dulu ada apa dengan mobilmu…”. Setelah mengecek lalu ia berkata, “Ini rusak berat, tidak bisa diperbaiki”.
Aku berkata, “Lantas solusinya bagaimana?”. Ia lalu menyampaikan sebuah ide yang selama hidupku tidak pernah aku mendengar ide seperti ini, padahal ia tidak mengenalku dan aku tidak mengenalnya.

Ia berkata, “Akhi.., engkau membawa keluarga sedangkan aku hanya sendirian…, engkau masukkan saja istri dan anak-anakmu ke mobilku terus bawalah mobilku, lanjutkan 

Mana Yang 

perjalananmu ke Riyadh, dan bertawakkallah kepada Allah. Adapun aku gampang…, aku akan nungguin mobilmu, aku minum kopi di warung, dan aku makan siang…. Perjalananmu masih sekitar 400 km. Kalau kamu sudah sampai di Riyadh maka antarkan keluargamu di rumahmu, lalu kirim aja mobil pengangkut dari Riyadh untuk menjemput aku dan mobilmu. Aku akan menunggui mobilmu sampai datang mobil penjemput  !!”.

Aku berkata, “Wahai saudaraku…, engkau tidak mengenalku…bagaimana engkau memberikan mobilmu kepadaku !!”.
Ia berkata, “Perkaranya biasa aja…kan mobilmu juga sama aku, mobilku sama kamu”
Aku sungguh heran dengan sikap orang ini. Ia lantas segera mengeluarkan barang-barangku dari mobilku dan memasukannya ke mobilnya, lantas ia berkata…”Silahkan jalan, bertawkkallah kepada Allah”.

Maka akupun melanjutkan perjalananku hingga aku tiba di Riyadh di waktu maghrib, lalu akupun menyewa mobil pengangkut untuk menjemputnya dan mobilku. Dan ternyata mobil pengangkut tersebut baru sampai pada keesokan paginya. Hingga akhirnya ia baru sampai di Riyadh di waktu dzuhur. Begitu sampai Riyadh aku segera menemuinya untuk mengembalikan mobilnya. Aku berkata kepadanya, “Apa yang kau kehendaki..?, mungkin ada yang kau butuhkan…??, aku ingin membalas kebaikanmu”

Ia berkata, “Alhamdulillah…aku tidak melakukan apa-apa buatmu…mobilku sekarang kembali dan mobilmu juga sudah sampai ke Riyadh”
Aku berkata, “Kalau begitu, aku minta nomor teleponmu”, iapun memberikan nomor teleponnya dan kamipun berkenalan sebentar.

Setelah itu berjalanlah hari…berlalulah minggu…lewatlah bulan.. hingga suatu hari akupun berkumpul dengan sahabat-sahabtku membicarakan tentang perbuatan-perbuatan baik. Lalu aku ceritakan kepada mereka kisahku ini, tentang pertolongan dari seseorang yang aku tidak pernah mengenalnya dan ia tidak pernah mengenalku. Sungguh aku tidak menyangka ada kebaikan lagi di dunia ini hingga akhirnya aku bertemu dengan orang ini. Ia telah berbuat baik kepadaku.


 Akupun teringat bahwasanya sudah lama aku tidak meneleponnya, maka akupun mencari nomor teleponnya, lalu akupun meneleponnya. Akan tetapi tenyata yang mengangkat telepon adalah istrinya. Maka aku berkata, “Dimanakah si fulan?”, ternyata istrinya menjawab dengan nada yang ketus, “Apalagi yang kalian inginkan…ia sudah dipenjara !!!”. Akupun terperanjat, aku bertanya, “Kenapa dipenjara?”. Istrinya dengan nada ketus berkata, “Kamu dan orang-orang yang sepertimu selalu saja datang dan menagih-nagih hutang hingga akhirnya suamiku dipenjara !!!”, Aku bertanya lagi, “Di penjara mana?”, maka istrinya mengabarkan bahwasanya ia dipenjara di sebuah penjara di Riyadh.

Maka keesokan harinya aku hendak berniat membalas kebaikannya. Maka akupun membawa uang sejumlah 100 ribu real (*sekitar 250 juta rupiah) lalu aku pergi menunju penjara tersebut. Aku menemui kepala penjara, lantas aku bertanya kepadanya, “Apakah si fulan dipenjara di sini?”, ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Masalahnya apa?”, ia berkata, “Karena masalah hutang”. Akupun mengeluarkan uangku 100 ribu real, lalu aku berkata, “Ini uang 100 ribu real, keluarkanlah ia dari penjara, dan jangan beritahu dari siapa. Sampaikan saja bahwasanya ada seorang dermawan yang memberikan, lunasi hutang-hutangnya dan keluarkanlah ia dari penjara”.

Kepala penjara tersebut lalu memanggil orang ini dan mengabarkan kepadanya bahwa ada orang yang ingin membebaskannya dengan menyumbangkan 100 ribu real. Kepala penjara berkata kepadanya, “Ambillah uang ini, semoga bermanfaat bagimu”. Akan tetapi ternyata  ia berkata, “Jazaahullahu khoiron, akan tetapi 100 ribu real ini tidak bermanfaat bagiku. Hutangku 3 juta real (*sekitar 7,5 milyar)”.

Rupanya orang ini telah masuk dalam perdagangan dan mengalami kerugian hingga akhirnya terlilit hutang sejumlah 3 juta real yang menyebabkan ia dipenjara karena tidak mampu untuk melunasinya. Lantas ia berkata kepada kepala penjara, “Ketahuilah uang 100 ribu real ini tidak bermanfaat bagiku, akan tetapi gunakan uang ini untuk membebaskan orang-orang yang dipenjara bersamaku yang kelilit utang 7 ribu real, atau 10 ribu real atau 20 ribu real“. Akhirnya dengan uang ini ia bisa membebaskan lebih dari 7 orang dari teman-temannya yang dipenjara.

Kepala penjara berkata, “Aku jadi bingung…manakah yang lebih menakjubkan…apakah perbuatan sang dermawan yang telah menyumbangkan 100 ribu realnya tanpa ingin diketahui…?, ataukah perbuatan orang yang dipenjara ini yang tidak memiliki uang sepeserpun dan dalam kondisi dipenjara lantas memberikan uang 100 ribu real untuk membebaskan teman-teman penjaranya??!!”

Setelah 2 atau 3 minggu kemudian maka aku kembali menelpon orang itu, dan ternyata yang mengangkat telepon kembali adalah istrinya. Lalu mengabarkan kepadaku bahwasanya suaminya masih saja dipenjara. Maka akupun kaget, lalu kututup teleponku dan segera aku berangkat menemui kepala penjara. Lalu aku berkata, “Akhi…3 minggu lalu aku kemari dan aku memberikan kalian 100 ribu real untuk membebaskan si fulan, lantas kenapa kalian belum membebaskannya?”. Kepala penjara berkata, “Wahai akhi…hutangnya 3 juta real, hanya 100 ribu real tentu tidak bisa membebaskannya. Akan tetapi wahai akhi…aku tidak tahu..mana yang lebih aneh dan menakjubkan…apakah perbuatanmu ataukah perbuatannya”.

 

Lantas kepala penjarapun menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi. Maka akupun terperangah….aku berkata, “Sungguh orang ini luar biasa…!!!”. Lalu aku berkata kepada kepala penjara, “Kalau begitu berikan kepadaku bukti-bukti hutangnya 3 juta real”. Kebetulan aku adalah orang yang dilapangkan rizki dan juga aku punya banyak kenalan, maka akupun mencari bantuan dengan menemui orang-orang kaya hingga akhirnya setelah 3 bulan kemudian akupun bisa mengumpulkan 3 juta real, lalu akupun membayarnya kepada kepala penjara untuk membebaskannya”.

(Demikian ceritanya…diterjemahkan secara bebas oleh Firanda Andirja)
Diterjemahkan dari http://www.youtube.com/watch?v=PFQ8u-FBSj4&feature=player_embedded